Pengumuman IT Telkom

Untuk Bahan Kuliah 2 minggu terakhir tidak bisa di Upload, bukan karena saya nga mau ngasih, tapi saya tidak bisa mengup-loadnya, sekali lagi mohon maav. UNTUK LEBIH JELASNYA lihat aja di email jepri purbakala dan murdin-i

Satu lagi pengumuman, bahwa proposal kami  dengan  Jepri akan dipresentasikan secara nasional dan internasional pada bulan Juli, mohon doa dan dukungannya.

Iklan

Tulisan FaurRizki (Artikel Asuransi)

            Resiko merupakan ketidakpastian yang bisa dikuantitaskan yang bisa menyebabkan terjadinya kerugian atau kehilangan. Resiko itu dapat dikategorikan sebagai berikut : 

       Resiko Murni Bentuk resiko yang kalau terjadi akan menimbulkan kerugian (loss) atau tidak menimbulkan kerugian (no loss/break even). Contoh: resiko kebakaran dan resiko kecelakaan.

       Resiko Spekulatif Bentuk Resiko yang kalau terjadi, dapat menimbulkan kerugian (loss), tidak menimbulkan kerugian (no loss/break even), atau mendatangkan keuntungan (gain). Contoh: resiko produksi dan resiko moneter (kurs valuta asing).

       Resiko Fundamental Bentuk resiko yang kalau terjadi, dampak kerugiannya bisa sangat luas atau katastropis. Penyebabnya biasanya tidak menyangkut pribadi. Contoh: resiko perang, gempa bumi, dan polusi udara.

       Resiko Partikular Bentuk Resiko yang berasal dari kejadian tertentu dan dampaknya dirasakan secara lokal. Contoh: resiko kebakaran, resiko pencurian, dan resiko huru-hara.

Resiko erat kaitannya dengan bahaya, perils/bahaya adalah kejadian yang mungkin terjadi atau tidak terjadi. Sumber bahaya tersebut pada dasarnya berasal dari tiga hal:

       Alam, misalnya: bencana alam, seperti: petir, gempa bumi, angin topan, dll.

       Manusia, misalnya: kelalaian, kejahatan seperti: pencurian, perampokan, dll.

       Peralatan/harta benda, misalnya: kecelakaan mobil, korsluiting listrik, kompor meledak, dll.

       Hazard adalah suatu keadaan atau sifat, baik yang berwujud fisik (physical hazards) maupun yang berwujud tingkah laku, karakter dan sifat manusia (moral hazards) yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya bahaya.

Contoh physical hazards:

1. Asuransi Kebakaran

        Instalasi listrik yang tidak baik.

        Penyimpanan bahan yang mudah terbakar.

2. Asuransi Kendaraan Bermotor

       Kepadatan lalu lintas yang tinggi.

       Penggunaan kendaraan untuk taksi.

 

3. Asuransi Tanggung Gugat

    Penggunaan bahan kimia dalam proses industri.

    Pekerjaan pemotongan dan pengelasan. 

4. Asuransi Rangka Kapal

       Usia kapal yang sudah terlalu tua.

       Penggunaan kapal secara tidak teratur.

5. Asuransi Marine Kargo

       Nilai barang yang sangat tinggi.

       Barang yang tidak terkemas baik.

Contoh dari moral hazards:

1. Tertanggung

       Kurang berinisiatif memperkecil kerugian.

       Sifat yang pemarah, pemabok, dsb.

2. Bos & Karyawan

       Hubungan yang kurang baik antara bos dan karyawan.

       Bos yang kurang memperhatikan kondisi tempat kerja.

Resiko, bukanlah hal yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang harus dikelola. Sehingga perlu dilakukan manajemen resiko. Tahapan dalam manajemen resiko adalah sebagai berikut :

Identifikasi dan Evaluasi

Proses kegiatan manajemen resiko merupakan tugas gabungan dari departemen underwriting dan juga loss control service. Kegiatan ini terdiri dari tiga tingkatan kegiatan,yaitu:

       Identifikasi resiko
Dalam tahap ini, yang dilakukan adalah mengidentifikasi resiko apa saja yang mungkin dihadapi.

       Evaluasi resiko
Dalam tahap ini, ada dua faktor yang sangat penting, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu permohonan asuransi, yaitu dampak kerugian (severity) serta tingkat keseringan kejadian (frequency).

 

 

 

 

       Pengawasan resiko
Pada tingkatan ini, perusahaan akan berusaha terus berhubungan dengan tertanggung guna memastikan obyek pertanggungan dalam keadaan stabil dan tidak ada peningkatan resiko.

Resiko Sendiri

Resiko sendiri, atau dikenal dengan istilah own retention atau own risk atau deductible adalah sejumlah nilai tertentu yang harus tertanggung pikul untuk setiap resiko atau kejadian klaim. Nilai resiko sendiri besarnya tergantung pada jenis asuransi dan besarnya peluang terjadi kecelakaan. Resiko sendiri diterapkan pada beberapa jenis asuransi, antara lain asuransi kebakaran, kendaraan bermotor, pengangkutan, contractor all risk. Sedangkan jenis asuransi yang biasanya tidak dikenakan resiko sendiri diantaranya adalah asuransi tanggung jawab hukum (third party liability atau TPL).

Nilai resiko sendiri tercantum pada ikhtisar polis dan umumnya dinyatakan dalam:

  • Nilai yang telah ditentukan, misalnya: Rp 100.000,00
  • Prosentase tertentu, misalnya: 10% dari jumlah uang pertanggungan atau 25% dari nilai klaim yang diajukan; atau
  • Kombinasi, misalnya:
  • 10% dari TSI atau minimal Rp 100.000 mana saja yang lebih besar.
  • 10% dari TSI atau 25% dari nilai klaim, mana saja yang lebih besar.

Contoh:

Asuransi kendaraan yang bernilai s/d 100 juta dan usianya belum melebihi 3 tahun, akan terkena resiko sendiri Rp 150.000. Apabila terjadi musibah sehingga kendaraan tertanggung perlu diperbaiki dengan biaya perbaikan Rp 1.000.000, maka tertanggung akan menanggung sendiri biaya sebesar Rp 150.000 pertama dan sisanya sebesar Rp 850.000 akan ditanggung oleh XYZ. Sedangkan bila biaya perbaikan kendaraan adalah Rp 75.000, maka tertanggung akan menanggung seluruh biaya tersebut, yaitu sebesar Rp 75.000.

Hal ini berarti bila terjadi klaim maka pertama sekali nilai klaim akan dikurangi resiko sendiri yang menjadi tanggung jawab tertanggung. Selisih antara nilai klaim dengan resiko sendiri akan menjadi tanggungan XYZ sepenuhnya hingga maksimum sebesar TSI. Resiko sendiri menunjukkan bahwa walaupun tertanggung telah mengalihkan resiko kepada XYZ, tetapi bila terjadi musibah tertanggung tetap menanggung kerugian secara finansial. Dengan demikian tertanggung wajib berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berkenaan dengan obyek yang dipertanggungkan.  

Untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh resiko, kita dapat melakukan empat cara:

  1. Menghindari resiko

Cara yang paling jelas dan mudah adalah menghindari resiko.  Kita dapa menghindari kemungkinan resiko luka atau kematian akibat kecelakaan pesawat terbang dengan cara menghindari naik pesawat terbang, atau kita dapa menghindari resiko rugi pada bursa saham dengan tidak membeli saham.  Seringkali menghindari resiko bukan cara yang efektif.

2.      Mengontrol resiko

Kita dapat mengontrol resiko dengan cara pencegahan.  Untuk mencegah kemungkinan kehilangan mobil kita dapat menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti pemasangan kunci ekstra, alarm mobil.

3.      Menerima resiko

Menerima resiko berarti menerima semua tanggung jawab finansial pada resiko tersebut.

  1. Mentransfer resiko

Ketika seseorang mentransfer atau mengalihkan resiko ke pihak lain, orang itu mengalihkan tanggung jawab finansialnya untuk suatu resiko kepada pihak lain dengan membayar jasa tersebut.  Cara paling umum untuk individual , keluarga dan bisnis untuk metode ini biasanya dengan membeli asuransi.

Ketika perusahaan asuransi setuju untuk memberikan pertanggungan asuransi terhadap seseorang, maka perusahaan asuransi tersebut mengeluarkan polis asuransi.  Polis adalah dokumen tertulis yang berisi persetujuan antara perusahaan asuransi dan pemilik polis.  Persetujuan itu sah secara hukum, dimana perusahaan asuransi berkewajiban memberikan sejumlah uang, dikenal sebagai policy benefit atau Uang pertanggungan, ketika sebuah resiko spesifik terjadi.  Sementara itu si tertanggung berkewajiban membayar  sejumlah uang untuk jasa tersebut dikenal sebagai premi.

Secara umum individual dan bisnis dapat membeli polis asuransi untuk menanggulangi tiga tipe resiko: 

  •  
    • Resiko kerusakan properti.
      Seperti kerusakan yang bisa terjadi pada mobil, rumah atau barang-barang berharga lainnya akibat dari kecelakaan, pencurian, kebakaran atau bencana lainnya.
    • Resiko kewajiban.
      Resiko kewajiban termasuk kerugian ekonomis yang ditimbulkan apabila kita menabrak orang lain pada suatu peristiwa kecelakaan.
    • Resiko personal.
      Resiko personal termasuk kematian, kesehatan yang buruk, dan lainnya.

 

Sesuai dengan laporan klaim yang tertanggung sampaikan dan
jika dipandang perlu, pihak asuransi segera melakukan survey atas
obyek asuransi yang terkena musibah untuk memperoleh informasi
yang akurat mengenai musibah yang menimpa obyek tersebut. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengumpulkan dokumen klaim yang diperlukan. Khusus untuk klaim yang cukup besar, pihak asuransi biasanya akan menunjuk badan penilai kerugian (loss adjuster) independen untuk melakukan survey resiko

Resiko tidak dapat dihilangkan secara mutlak dalam suatu proses. Akan tetapi, kita selalu berpikir bagaimana resiko itu diminimalkan sampai batas-batas kerugian yang dapat diterima. Cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan suatu resiko adalah dengan mengidentifikasi, mengukur tingkat resiko, mengontrol resiko-resiko tersebut.

Tujuan dari survey resiko adalah untuk melihat dengan lebih jelas kondisi fisik dan tingkat resiko dari obyek pertanggungan yang akan diasuransikan. Lebih jauh tujuan dari survey resiko adalah untuk menyimpulkan data–data yang kemudian akan diproses dan pada akhirnya menjadi informasi yang disebut dengan analisa resiko. Pada analisa resiko mencakup pengidentifikasian dan pengukuran tingkat resiko. Survey resiko ini dapat dilakukan oleh internal surveyor (staff perusahaan) ataupun oleh external surveyor (independent surveyor).

Dilihat dari aktifitas pelayanan kontrol kerugian, maka survey resiko memiliki 2 keuntungan, yaitu bagi perusahaan asuransi itu sendiri dan pihak tertanggung. Keuntungan yang didapat bagi perusahaan asuransi adalah memperbesar jumlah premi yang masuk dengan mengurangi semaksimal mungkin jumlah klaim. Sedangkan keuntungan bagi tertanggung adalah memperkecil dampak suatu kerugian yang muncul dengan melakukan suatu perbaikan (risk Improvement) sesuai dengan rekomendasi dari perusahaan asuransinya.

Resiko yang dapat diasuransikan. Diantaranya :

      Resiko bersifat homogen atau ada dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan demikian lukisan asli Monalisa akan sulit diasuransikan karena jumlah hanya satu sehingga sulit mengambil tolok ukur nilainya. Sedangkan kerusakan harta benda secara umum, tingkat ganti rugi dapat diukur dari biaya perbaikannya.

      Bentuk Resikonya harus murni dan khusus
Dengan demikian  usaha mencari keuntungan dari asuransi dapat dicegah. Kejadian yang bersifat fundamental jarang yang langsung masuk ke jaminan dasar, kecuali melalui perluasan jaminan atau jaminan secara khusus.

      Resiko yang tidak terduga atau terjadi tiba-tiba
Dengan demikian bangunan yang akan dirobohkan dalam waktu dekat (misalnya karena ada perluasan kota) tidak dapat diasuransikan.

      Resiko yang tidak bertentangan dengan hukum
Resiko denda tilang merupakan Resiko  yang tidak bisa diasuransikan.

      Obyek Resiko harus bisa dinilai atau diukur dengan uang
Contoh: udara di ruangan atau air sumur tidak dapat diasuransikan.

      Resiko yang disertai dengan insurable  interest (kepentingan yang dipertanggungkan).

      Resiko yang ditransfer harus disertai dengan premi yang wajar.

 

Jenis-jenis Asuransi, secara garis besar, bidang asuransi terjadi dari tiga kategori, yaitu:

       Asuransi Kerugian

Jenis Asuransi yang memberikan pertanggungan finansial pada semua resiko kerugian pada properti atau hak milik dari si tertanggung. Terdiri dari asuransi untuk harta benda (property), kepentingan keuangan (pecuniary), tanggung jawab hukum (liability) dan asuransi diri (kecelakaan atau kesehatan).

                        Jenis-jenis produk yang termasuk dalam kategori Asuransi Kerugian

 

      Asuransi Jiwa
            Jenis asuransi yang menyediakan pengalihan kerugian finansial atas bencana yang bisa terjadi pada manusia, baik akibat langsung seperti kematian atau cacat maupun akibat tidak langsung seperti biaya pengobatan, dan kehilangan penghasilan.  Selain berfungsi sebagai proteksi ada juga produk asuransi jiwa yang berfungsi sebagai investasi dan edukasi. Jenis jenis produk yang termasuk asuransi jiwa:

 

       Asuransi Sosial
Adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan pemerintah berdasarkan UU. Maksud dan tujuan asuransi sosial adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan komersial. Contoh asuransi sosial :

  • Asuransi Tenaga Kerja (Astek)

Program asuransi yang melindungi dari para karyawan apabila terjadi musibah yang mengakibatkan karyawan berkurang atau hilang penghasilan dan untuk biaya pengobatan

  • Dana Pensiun

Program asuransi yang bersifat seperti tabungan, dimana setiap bulan sejumlah persentase kecil dari pendapatan dipotong untuk disimpan.  Kelak, apabila karyawan sudah pensiun, maka dana akumulasi ini dapat dicairkan.

 

Dalam menyeleksi dan menerima calon pelanggan yang ingin membeli produk asuransi, Perusahaan asuransi menggunakan beberapa prinsip dasar untuk memutuskan apakah pelanggan tersebut layak untuk diasuransikan.
Prinsip-prinsip yang digunakan adalah:

Insurable interest (kepentingan yang dipertanggungkan) berarti pelanggan mempunyai suatu kepentingan yang dapat diasuransikan.  Hal ini timbul dari hubungan finansial yang diakui hukum. Hubungan tersebut dapat timbul karena:

  • Hukum
    Menurut hukum kebiasaan, seseorang atau harta benda seseorang selain dimiliki oleh orang tersebut, juga dimiliki oleh keluarganya. Dengan demikian, seorang bapak dapat membelikan asuransi untuk anak atau harta benda milik anaknya, demikian pula sebaliknya.
  • Undang-undang
    Misalnya menurut UU, setiap perusahaan angkutan penumpang diharuskan bertanggung jawab apabila ada penumpang yang mengalami kecelakaan. Oleh karena itu perusahaan angkutan tersebut boleh, bahkan diwajibkan, membeli asuransi kecelakaan untuk penumpangnya.
  • Kontrak
    Misalnya dalam suatu kontrak kerja bangunan, kontraktor dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan bangunannya. Dengan demikian, kontraktor tersebut boleh membeli proteksi asuransi  contractor all risk.

Orang dikatakan memiliki insurable interest atas obyek yang diasuransikan bila orang tersebut menderita kerugian keuangan seandainya terjadi musibah atas obyek tersebut.  Apabila terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan dan terbukti bahwa orang tersebut tidak memiliki kepentingan keuangan atas obyek tersebut, maka orang tersebut tidak berhak menerima ganti rugi.

Contoh:

Bapak A mengasuransikan rumah tetangganya (Bapak B). Pada saat terjadi musibah atas rumah tersebut, Bapak A mengajukan klaim ke Asuransi XYZ. Bagaimana penyelesaiannya? XYZ akan menolak klaim tersebut.

Kapan insurable Interest itu harus ada?

  • Untuk jenis asuransi harta benda (properti), insurable interest harus ada pada saat membeli asuransi dan pada saat terjadi klaim.
  • Untuk asuransi marine cargo, yang status barangnya adalah barang dagangan, insurable interest harus ada pada saat klaim terjadi. Alasannya adalah selama dalam perjalanan, barang dagangan tersebut dapat berganti pemilik karena proses jual beli.
  • Untuk asuransi jiwa, insurable interest harus ada pada saat membeli asuransi.

 

 

 

Prinsip utmost good faith (itikad terbaik) merupakan prinsip bahwa setiap tertanggung berkewajiban memberitahukan secara jelas dan teliti mengenai segala fakta penting yang berkaitan dengan obyek yang diasuransikan  serta tidak mengambil untung dari asuransi. Prinsip ini juga berlaku bagi perusahaan asuransi, yaitu kewajiban menjelaskan risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan secara jelas dan teliti. Kewajiban untuk memberikan fakta penting tersebut berlaku:

  • Sejak perjanjian mengenai asuransi dibicarakan sampai polis keluar.
  • Pada saat perpanjangan polis.
  • Pada saat terjadi perubahan pada polis dan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perubahan itu.  

Prinsip ini menjadi sangat penting, karena:

  • Secara umum tertanggung mengetahui lebih lengkap obyek yang akan diasuransikan dibandingkan dengan penanggung.  
  • Perhitungan besarnya premi sangat dipengaruhi oleh beban risiko.  

Fakta-fakta yang harus diungkapkan tertanggung

  • Situasi dan kondisi obyek, secara internal  (konstruksi, barang yang ada, dll)
    maupun eksternal (lingkungan sekitar);
  • Pengalaman klaim yang pernah ada;
  • Pengalaman penutupan asuransi sebelumnya;
  • Fakta teknis lainnya yang diketahui.

Contoh:

Seseorang harus menjelaskan konstruksi bangunan yang sebenarnya pada saat akan menutup asuransi. Sebab konstruksi bangunan dapat dikamuflase dengan wall paper atau cat.

Fakta yang harus diungkapkan penanggung (melalui agen)

  • Menjelaskan risiko yang dijamin dan pengecualiannya;
  • Memberitahukan besarnya premi sesuai dengan peraturan;
  • Memberikan penjelasan tentang prosedur klaim;
  • Informasi lain yang diperlukan.

Pelanggaran prinsip utmost good faith:

  • Pernyataan atau keterangan yang salah tetapi bukan karena kesengajaan;
  • Pernyataan atau keterangan yang salah yang dilakukan dengan sengaja untuk
    mendapatkan keuntungan;
  • Tidak mengungkapkan fakta atau tidak memberitahukan hal-hal yang diperlukan pihak lain, bukan karena kesengajaan, namun mungkin saja karena ketidaktahuan atau kelupaan;
  • Menyembunyikan keterangan atau fakta secara sengaja untuk mendapatkan
    keuntungan.

Contoh:

  • Mengajukan klaim asuransi yang bersifat fiktif;
  • Menaikkan jumlah permintaan ganti rugi dengan rekayasa yang sengaja dimanipulasi;
  • Mengasuransikan obyek asuransi yang rawan dengan keterangan yang berbeda dengan kenyataan yang ada.

Reaksi atas pelanggaran

  • Menganggap batal kontrak atau perjanjian asuransi yang ada
        a. Tidak ada kontrak dari awalnya;
        b. Menolak bertanggung jawab atas klaim.
  • Menuntut pihak yang melakukan kesengajaan untuk merugikan pihak lain.
  • Menganggap tidak ada pelanggaran, dan melanjutkan kontrak asuransi.

 

Apabila obyek yang diasuransikan terkena musibah sehingga menimbulkan kerugian maka penanggung akan memberi ganti rugi kepada tertanggung sesuai dengan prinsip indemnity (indemnitas). Namun demikian, tertanggung tidak berhak memperoleh ganti rugi lebih besar daripada kerugian yang diderita.

Metode pembayaran/pengganti kerugian bervariasi tergantung dari kerugian yang diderita oleh tertanggung. Jenisnya antara lain:

  • Tunai (cash), misalnya dalam asuransi kecelakaan diri, atau biaya perbaikan kendaraan yang rusak akibat kecelakaan;
  • Perbaikan (repair), misalnya bengkel mobil rekanan asuransi;
  • Reinstate, misalnya membangun kembali bangunan yang rusak akibat kerugian;
  • Mengganti (replace), misalnya untuk mesin-mesin, atau berlaku juga pada asuransi mobil.

Prinsip subrogration (perwalian) ini berkaitan dengan suatu keadaan dimana kerugian yang dialami tertanggung merupakan akibat dari kesalahan pihak ketiga (orang lain). Prinsip ini memberikan hak perwalian kepada penanggung oleh tertanggung jika melibatkan pihak ketiga. Dengan kata lain, apabila tertanggung mengalami kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga, maka XYZ, setelah memberikan ganti rugi kepada tertanggung, akan mengganti kedudukan tertanggung dalam mengajukan tuntutan kepada pihak ketiga tersebut.

Mekanisme Aplikasi subrogasi

  • Tertanggung harus memilih salah satu sumber pengantian kerugian, dari pihak ketiga atau dari asuransi.
  • Kalau tertanggung sudah menerima penggantian kerugian dari pihak ketiga, ia tidak akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi, kecuali jumlah penggantian dari pihak ketiga tsb tidak sepenuhnya.
  • Kalau tertanggung sudah mendapatkan penggantian  dari asuransi ia tidak boleh menuntut pihak ketiga. Karena hak menuntut tersebut sudah dilimpahkan ke perusahaan asuransi.

Contoh:

Kendaraan A ditabrak oleh kendaraan B. Kendaraan A diasuransikan ke XYZ. Setelah XYZ membayar klaim ke pihak A, maka XYZ bertindak atas pihak A dapat mengajukan klaim ke pihak B.

Walaupun sudah ditegaskan tidak diperbolehkan, tetapi mungkin saja seseorang mengasuransikan harta benda yang sama pada beberapa perusahaan asuransi. Bila terjadi kerugian atas obyek yang diasuransikan, maka secara otomatis berlaku prinsip contribution (kontribusi). Tertanggung tidak mungkin mendapatkan penggantian kerugian dari masing-masing perusahaan asuransi secara penuh.

Prinsip kontribusi berarti bahwa apabila perusahaan asuransi telah membayar ganti rugi yang menjadi hak tertanggung, maka perusahaan berhak menuntut perusahaan asuransi lain yang terlibat dalam obyek tersebut untuk membayar bagian kerugian sesuai dengan prinsip kontribusi.

Contoh:

Bapak A mengasuransikan satu unit rumah tinggal seharga 100 juta kepada tiga perusahaan asuransi:

Asuransi A       = Rp 100.000.000,-

Asuransi B        = Rp   50.000.000,-

Asuransi C        = Rp   50.000.000,-

Total                 = Rp  200.000.000,-

 

Bila bangunan tersebut mengalami kerugian total, misalnya habis terbakar, maka maksimum ganti rugi yang Bapak A peroleh adalah dari:

Asuransi A= Rp 100.000.000 / 200.000.000 X 100.000.000 = Rp 50.000.000

Asuransi B= Rp 50.000.000 / 200.000.000  X 100.000.000   = Rp 25.000.000

  1. Asuransi C= Rp 50.000.000 / 200.000.000 X 100.000.000    = Rp 25.000.000

                                                                                                  Total ganti rugi     = Rp 100.000.000

Dengan demikian jumlah ganti yang harus Bapak A terima dari ketiga perusahaan tersebut bukanlah Rp 200.000.000, melainkan hanya Rp 100.000.000 sesuai dengan harga rumah sebenarnya.

Prinsip ini tidak berlaku bagi asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan diri yang berkaitan dengan meninggal dunia atau cacat tetap.

Contoh:

Bapak. A mempunyai polis Asuransi Jiwa A sebesar Rp 100.000.000, Asuransi Jiwa B sebesar Rp 50.000.000, dan Asuransi Jiwa C sebesar Rp 100.000.000. Kalau Bapak. A meninggal akibat kecelakaan yang dijamin oleh ketiga polis tersebut, maka ahli warisnya akan menerima santunan uang tunai (bukan ganti rugi) sebesar Rp 250.000.000.

Dalam praktek asuransi, kadang-kadang sangat sulit menetapkan suatu peristiwa yang dianggap sebagai penyebab yang paling dominan atau paling efisien menimbulkan kerugian, karena sering terjadi peristiwanya tidak merupakan peristiwa tunggal (single perils), tetapi merupakan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan sehingga sering terjadi kontroversi dan perdebatan dalam menetapkan kejadian utama penyebab kerugian. Prinsip proximate cause (kausa proksimal) dapat menjadi solusi untuk masalah ini.

Contoh:

Kapal kandas terkena batu karang di laut dan mengalami kebocoran. Untuk sementara dilakukan tindakan darurat dengan menambal kebocoran tersebut supaya kapal bisa segera menuju ke pelabuhan terdekat. Namun di tengah jalan, tambalan terlepas dan kapal tenggelam. Faktor manakah yang menyebabkan kapal tenggelam? Peristiwa kandasnya kapal terkena batu karang atau karena tambalan kebocoran yang ada lepas?

Penyelesaian :

§ Penyebab dominan tidak harus selalu penyebab pertama, atau penyebab terakhir. Penyebab yang paling aktif dan efisien menimbulkan kerugianlah yang dijadikan proximate cause.

§ Sering juga terjadi dua peristiwa yang terjadi bersamaan, secara independent (tidak berkaitan) yang menimbulkan suatu kerugian/kerusakan.

Contoh:

Terjadinya angin topan bersaman dengan kebakaran, yang tidak berkaitan, namun ada dua jenis kerugian, akibat kebakaran dan akibat angin topan. Ada juga suatu peristiwa kebakaran yang terjadi saat ada huru hara, yang masing-masing tidak berkaitan

Penyelesaian :

  • Kalau dua kerugian tidak bisa dipisahkan, dan keduanya tidak dikecualikan dalam polis, dijamin.
  • Kalau salah satu dikecualikan dan kerugiannya tidak bisa dipisahkan, tidak dijamin. Kalau bisa dipisahkan, hanya yang tidak dikecualikan yang dijamin asuransinya.

Dalam keadaan yang khusus, sering diperlukan suatu bantuan penetapan oleh para ahli atau profesional terkait, misalnya professional claim surveyor kebakaran.

Manrisk 3

Manajemen resiko adalah proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu. Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian serta tuntutan hokum). (Wikipedia)
Manajemen Resiko Perusahaan Terintegrasi atau ERM (Enterprise Risk Management) merupakan proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasikan, mengukur, memetakan, mengembangkan alternative penanganan resiko dalam memonitor dan mengendalikan implementasi penanganan resiko.
Siklus manajemen resiko terdiri dari lima tahap, yaitu :

I. Tahap Identifikasi Resiko
Identifikasi Resiko adalah rangkaian proses pengenalan yang seksama atas resiko dan komponen resiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan resiko yang tepat. Pada tahap ini, analis berusaha mengidentifikasi apa saja resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh sekumpulan informasi tentang kejadian resiko, informasi mengenai penyebab resiko, bahkan informasi mengenai dampak apa saja yang bisa ditimbulkan oleh resiko tersebut
Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi resiko dimulai dengan pemahaman tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai resiko. Sebagaimana telah didefiniskan di atas, maka resiko adalah : tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu/tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada
suatu kurun/periode tertentu (time horizon).
Bertitik tolak dari definisi tersebut maka terdapat dua tolak ukur penting di dalam pengertian
resiko, yaitu :
a. Tujuan (yang ingin dicapai)/Objectives
Untuk dapat menetapkan batas-batas resiko yang dapat diterima, maka suatu perusahaan harus
terlebih dahulu menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Kerap kali, ketidakjelasan mengenai tujuan-tujuan yang ingin dicapai mengakibatkan munculnya resiko-resiko yang tidak diharapkan.
b. Periode Waktu (Time Horizon)
Periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat resiko yang dihadapi, sangatlah tergantung pada jenis bisnis yang dikerjakan oleh suatu perusahaan. Semakin dinamis pergerakan faktor-faktor pasar untuk suatu jenis bisnis tertentu, semakin singkat periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat resiko yang dihadapi. Contoh, seorang manajer pasar uang di suatu bank mestinya akan melakukan pemantauan atas tingkat resiko yang dihadapi secara harian. Di lain pihak seorang manajer portofolio kredit/capital market, mungkin akan menerapkan periode waktu 1 bulan untuk melakukan pemantauan atas tingkat resiko yang dihadapi.
Pemahaman yang benar atas kedua tolak ukur tersebut akan sangat menentukan validitas dan efektifitas dari konsep Risk Management yang akan dibangun.
Tahapan selanjutnya dari proses identifikasi resiko adalah menentukan metode identifikasi resiko. Ada empat jenis metode yang dapat diterapkan dalam mengidentifikasikan resiko, yaitu
 Analisis data historis
Pada metode ini, digunakan berbagai informasi dan data yang tersedia dalam perusahaan mengenai segala sesuatu yang pernah terjadi.
Contoh dari data kepegawaian, dapat diketahui bahwa perusahaan menghadapi resiko kehilangan karyawan yang penting

 Pengamatan dan survei
Pengidentifikasiaan resiko pada metode pengamatan dan survey, dilakukan dengan cara investigasi atau pencarian data langsung di tempat kejadian
Contoh dengan mengamati proses produksi, dapat diketahui bahwa perusahaan menghadapi resiko lampu mati.

 Pengacuan (benchmarking)
Pada metode pengacuan, pengidentifikasian resiko dilakukan dengan mencari informasi tentang resiko di tempat atau perusahaan lain.
Contohnya, dari berita di media massa, dapat diketahui bahwa eskalator beresiko menyebabkan anak-anak terjepit.

 Pendapat ahli
Pengidentifikasiaan resiko pada metode ini, dilakukan dengan mencari informasi dari ahli di bidang resiko tertentu.
Contohnya dari bertanya pada dokter, dapat diketahui bahwa orang dengan tingkat kolesterol tinggi beresiko kena penyakit jantung.

Kemudian tahap selanjutnya adalah mengenali jenis-jenis resiko yang mungkin (dan umumnya) dihadapi oleh setiap pelaku bisnis. Berikut ini adalah jenis-jenis resiko yang dihadapi oleh kalangan perbankan adalah apa yang tercantum di dalam Core Principle for Effective Banking Supervision (Basel Core principles) September 1997, yang tergabung di dalam Compendium of documents produced by the Basel Committee on Banking Supervision, February 2000 :
1.Resiko Kredit (Credit Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan counterparty (debitur) dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai yang disyaratkan oleh kontrak/perjanjian.
Resiko ini tidak hanya muncul dari kredit/pinjaman (loan) melainkan juga meliputi komponen-komponen lain, baik on maupun off balance sheet seperti Garansi, Akseptasi, Securities Investment, dll.
2. Resiko Negara dan Pengalihan (Country and Transfer Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kondisi lingkungan ekonomi, sosial, politik dari negara asal counterparty (debitur). Resiko ini muncul dalam transaksi pinjaman lintas negara.
3. Resiko Pasar (Market Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan harga di pasar. Resiko ini harus dilihat dalam konteks prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku saat ini. Resiko ini tampak jelas pada aktivitas trading seperti debt/equity instruments, foreign exchange, atau komoditas.
4. Resiko Tingkat Bunga (Interest Rate Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan tingkat bunga di pasar.
5. Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakmampuan bank untuk mengakomodasi berkurangnya pasiva/liabilities atau untuk membiayai/mendanai peningkatan di sisi aktiva/assets.
6. Resiko Operasional (Operational Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pelanggaran atas ketentuan-ketentuan internal maupun atas kebijakan-kebijakan bank.
7. Resiko Hukum (Legal Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakcukupan (inadequacy) atau kesalahan dalam pemberian pendapat hukum maupun dokumentasi hukum.
8. Resiko Reputasi (Reputational Risk)
Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan di dalam operasional bank khususnya kegagalan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan yang dikenakan atas bank
Kemudian setelah memahami pengertian resiko itu sendiri, dilakukan analisis terhadap pihak-pihak yang berkepentingan pada perusahaan yaitu stakeholder dan shareholder.
Shareholder adalah para pemegang saham (penanam modal) di sebuah organisasi (perusahaan). Seseorang akan dibilang sebagai seorang shareholder apabila dia telah menanamkan modalnya di perusahaan yang bersangkutan, biasanya melalui pembelian saham. Tapi bisa juga dalam bentuk penanaman modal lainnya.
Stakeholder adalah mereka yang mempunyai kepentingan terhadap sebuah organisasi atau perusahaan, dan termasuk di dalamnya para shareholder. Stakeholder dapat dibagi menjadi dua: stakeholder internal dan stakeholder eksternal.
Stakeholder internal adalah stakeholders dari dalam perusahaan, sedangkan stakeholder eksternal adalah stakeholders yang berada di luar perusahaan.
Contoh, stakeholder Telkom Indonesia diantaranya:
 Stakeholder internal:
 Karyawan dan keluarganya
 Serikat Karyawan Telkom
 Stakeholder eksternal:
 Rakyat Indonesia
 Pemerintah Indonesia
 Pemegang saham (investor) / shareholder
 Pabrik telepon
 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
 Pemilik tanah yang lahannya dipakai untuk menara pemancar Telkom
 Supplier Alat Tulis Kantor nya Telkom
Tahap berikutnya, melakukan analisis dengan menggunakan 7S dari McKenzie. Ketujuh S tersebut adalah :

1. Structure
It is defined as the skeleton of the organisation or the organisational chart. The basic organization of the company, its departments, reporting lines, areas of expertise, and responsibility (and how they inter-relate). Business needs to be organised in a specific form of shape that is generally referred to as organizational structure. Traditionally, the businesses have been structured in a hierarchical way with several divisions and departments, each responsible for a specific task such as human resources management, production or marketing. Many layers of management controlled the operations, with each answerable to the upper layer of management.
2. System
The routine processes and procedures followed within the organisation. Formal and informal procedures that govern everyday activity, covering everything from management information systems, through to the systems at the point of contact with the customer (retail systems, call centre systems, online systems, etc). For example, a company may follow a particular process for recruitment. These processes are normally strictly followed and are designed to achieve maximum effectiveness.
3. Strategy
Defined as the plan or course of action in allocating resources to achieve identified goals over time. The direction and scope of the company over the long term. Strategy is the plan of action an organisation prepares in response to, or anticipation of, changes in its external environment.
4. Staff
Staff is, of course, people; it includes
• How they are sourced
• How they are developed
• How they are deployed
• How they are motivated
Staff is tough to change.
5. Skill
Skills are the talents (as distinct from the people, or systems) an organization brings to bear on its business; they include
• Key functions (e.g., purchasing, R&D, sales)
• Predispositions (e.g., ability to manage large projects)
Skills should be seen both as potential weaknesses and as strengths
Skills are also tough to change
6. Style
Style is more tangible than it seems, and includes
• Level and focus of management attention
• Personality
• Ways of interacting and approaches to problems
7. Shared Value
Shared values are the very few, consistent themes and goals which drive an organization.
Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.
II. Tahap Pengukuran Resiko
A. Definisi
Pengukuran Resiko adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu resiko, baik secara individual maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha. Pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan resiko yang terarah dan berhasil guna.
Pada umumnya pengukuran resiko mengacu pada dua factor, yaitu kualitas dan kuantitas. Faktor kualitas menyangkut dengan berapa banyak nilai atau exposure yang rentan terhadap resiko, sedangkan faktor kuantitas resiko berkaitan dengan kemungkinan suatu resiko muncul.
Exposure adalah obyek yang rentan terhadap resiko dan berdampak pada kinerja perusahaan apabila resiko yang diprediksikan benar-benar terjadi. Eksposur yang paling umum berkaitan dengan ukuran keuangan, misalnya harga saham, laba, pertumbuhan penjualan, dan sebagainya.
B. Dimensi
Signifikansi suatu resiko maupun portofolio resiko dapat diketahui/disimpulkan dengan
melakukan pengukuran terhadap 2 dimensi resiko yaitu :
• Kuantitas (quantity) resiko, yaitu jumlah kerugian yang mungkin muncul dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kuantitas resiko dinyatakan dalam satuan mata uang. Dimensi kuantitas meliputi notional, trend, volatilitas, penyimpangan bawah.
• Kualitas (quality) resiko, yaitu probabilitas (likelihood) dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kualitas resiko dapat dinyatakan dalam bentuk : confidence level, matrix resiko (tinggi, sedang, rendah), dan lain-lain yang dapat menggambarkan kualitas resiko.
Dua dimensi ini harus muncul sebagai hasil dari proses pengukuran resiko.

C. Metode
Berikut ini adalah metode pengukuran resiko berdasarkan dimensi :
1. Metode pengukuran kuantitas resiko
a) Notional
Notional: resiko diukur berdasarkan batas atas besarnya nilai yang rentan terhadap resiko (eksposur). Contoh pengukuran resiko kredit dengan metode notional. Jika perusahaan meminjamkan uang kepada pihak lain senilai Rp 2 milyar, maka besarnya resiko kredit berdasarkan pendekatan notional adalah Rp 2 milyar.
b) Sensitivitas
Sensitivitas: diukur berdasarkan sensitivitas eksposur terhadap pergerakan satu unit variabel pasar. Contoh paling populer adalah resiko aset keuangan atau sekuritas, yang diukur berdasarkan sensitivitas tingkat pengembalian (return) aset yang bersangkutan terhadap perubahan tingkat pengembalian pasar. Ukuran ini dikenal sebagai Beta Pasar. Contoh lainnya adalah degree of operating leverage (DOL), yang mengukur sensitivitas laba operasi terhadap perubahan penjualan. DOL digunakan sebagai ukuran resiko bisnis.
c) Volatilitas
Volatilitas: diukur berdasarkan rata-rata variasi nilai eksposur, baik variasi negatif maupun positif. Semakin besar standar deviasi suatu eksposur, semakin berfluktuasi nilai eksposur tersebut, yang berarti semakin beresiko eksposur atau aset tersebut.
d) Penyimpangan bawah
Penyimpangan bawah: diukur berdasarkan penyimpangan negatif dari eksposur. Dikenal juga dengan pendekatan VaR (value at risk), resiko diukur berdasarkan kerugian maksimum yang bisa terjadi pada suatu aset atau investasi selama periode tertentu, dengan tingkat keyakinan (level of confidence) tertentu. Value At Risk pada saat ini dapat dianggap sebagai metode standar di dalam mengukur Resiko Pasar (Market Risk), dan mulai banyak digunakan untuk mengukur Resiko (Portofolio) Kredit. Per definisi Value At Risk adalah : kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu/periode tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu (“predicted worst-case loss with a specific confidence level over a period of time”). Konsep VAR berdiri di atas dasar observasi statistik atas data-data historis dan relatif dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang bersifat obyektif. Upaya untuk mengukur resiko telah dilakukan orang dengan berbagai cara. Berbagai indikator yang sering digunakan oleh bank dalam mengukur dan mengelola Resiko Kredit atas portofolio kreditnya misalnya : penetapan rating, pembatasan tenor, pembatasan sector industri, penetapan watch list, dsb. Resiko Pasar misalnya : volatilitas, sensitivitas, dsb. Resiko Tingkat Bunga misalnya : Liquidity Gap, Interest Rate Gap, dsb. VAR, dapat dikatakan, merangkum seluruh substansi yang ingin ditangkap dari alat-alat atau metode-metode tradisional tersebut. VAR juga mengakomodasi kebutuhan untuk mengetahui potensi kerugian atas exposure tertentu. VAR juga dapat diterapkan pada berbagai level transaksi, mulai dari individual exposure sampai pada portfolio exposures. Dua hal yang tidak dapat ditawarkan oleh alat metode tradisional seperti disebutkan di atas. Secara umum ada empat pertanyaan dasar yang akan dijawab dengan menggunakan konsep VAR yaitu :
 Berapa banyak bank akan mengalami kerugian?
 Apakah kerugian tersebut akan terkonsentrasi pada satu aspek tertentu (obligor, area, jenis resiko)?
 Exposure mana yang akan meminimalkan resiko dari exposure yang lain?
 Berapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan mengambil resiko tersebut?
Untuk mengukur resiko dengan pendekatan VaR, diperlukan data standar deviasi dan skor Z dari tabel distribusi normal. Contoh: diketahui standar deviasi daru suatu aset bernilai Rp 1 juta adalah 2,4%. Pada tingkat keyakinan 95%, skor Z-nya adalah 1,645. Maka besarnya resiko (dalam nilai Z) adalah 0,024 x 1,645 = 0,040. Jika nilai Z tersebut dikembalikan ke nilai awalnya menjadi 0,040 x Rp 1 juta = Rp 40 ribu.
e) Stress Testing
Salah satu keterbatasan konsep VAR adalah bahwa VAR hanya efektif diterapkan dalam
kondisi pasar yang normal. Konsep VAR tidak dirancang untuk memprediksikan terjadinya
suatu kejadian yang akan menyebabkan runtuhnya pasar (unexpected event) seperti perang,
bencana alam, perubahan drastis di bidang politik, dll.
Konsep Stress Testing memberikan jawaban untuk masalah tersebut. Konsep Stress Testing
dirancang sebagai suatu pendekatan subyektif terhadap resiko yang bagian terbesarnya
tergantung pada human judgement. Konsep ini adalah sebuah rangkaian proses eksplorasi,
mempertanyakan, dan berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan (khususnya terkait
dengan resiko) pada saat terjadinya sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” (very unlikely)
terjadi.
Di dalam konsep Stress Testing dilakukan hal-hal sebagai berikut :
• Menyusun beberapa skenario (terjadinya unexpected event)
• Melakukan revaluasi (resiko) atas portofolio
• Menyusun kesimpulan atas skenario-skenario tersebut
Stress Testing harus dilaksanakan secara periodik dengan melibatkan Senior Management.
f) Back Testing
Suatu model hanya berguna jika model tersebut dapat menerangkan realitas yang terjadi. Demikian pula dengan model pengukuran resiko. Untuk menjaga reliability dari model, maka secara periodik suatu model pengukuran harus diuji dengan menggunakan suatu konsep yang dikenal dengan Back Testing.

2. Metode pengukuran kualitas resiko
a) Metode Probabilitas
1. Metode Probabilitas
Probabilitas adalah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Probabilitas adalah nilai kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Nilainya di antara 0 dan 1. Kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 1 adalah kejadian yang pasti terjadi, dan tentu tidak akan mengejutkan sama sekali.
Misalnya matahari yang masih terbit di timur sampai sekarang. Sedangkan suatu kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 0 adalah kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi. Misalnya seekor kambing melahirkan seekor sapi.
Contoh Probabilitas Kejadian
Skala Probabilitas:
SKALA KEJADIAN
1 Sangat Pasti (hampir dipastikan 100% terjadi tahun depan, atau terjadi setiap tahun)
2 Hampir Pasti (75 –100% terjadi tahun depan, atau sekali dalam 5 tahun mendatang)
3 Mungkin (50 -75 % terjadi tahun depan, atau sekali dalam 10 tahun)
4 Kecil (20-50 % terjadi tahun depan atau sekali dalam 25 tahun)
5 Tidak Pasti (1 –20 % terjadi tahun depan atau sekali dalam lebih dari 50 tahun)

Dampak Kejadian
Dampak Kerugian yang ditimbulkan:
SKALA DAMPAK
1 Tidak Parah
2 Ringan
3 Cukup Parah
4 Parah
5 Sangat Parah

MATRIKS RESIKO

Dari gambar matriks resiko, bisa dibuat prioritas dari kemungkinan resiko yang telah dibuat dimana:
1. Prioritas utama, yaitu resiko estimasi
2. Prioritas menengah, yaitu resiko yang berhubungan dengan masyarakat (eksternal) dan resiko peralatan pengembangan
3. Prioritas kecil , yaitu resiko pengaruh organisasi (internal), resiko proses, resiko teknologi, resiko yang berhubungan dengan jumlah staf dan pengalaman dan resiko komponen dan pengendali.

III. Tahap Pemetaan Resiko
Tahap pemetaan resiko bertujuan untuk mengetahui skala prioritas yang harus ditangani terlebih dahulu, karena tidak semua resiko berdampak pada perusahaan.

IV. Tahap Model Pengelolaan Resiko
Jika resiko-resiko yang dihadapi oleh perusahaan telah diidentifikasi, diukur, dan dipetakan maka pertanyaan selanjutnya adalah : “Profil/Struktur Resiko yang bagaimana yang terbaik bagi perusahaan?”. Pertanyaan tersebut mengarah kepada upaya untuk :
• Meningkatkan kualitas dan prediktabilitas dari pendapatan perusahaan (earning) untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham (shareholder value)
• Mengurangi kemungkinan munculnya tekanan pada kemampuan keuangan (financial distress)
• Mempertahankan marjin operasi (operating margin)
Konsep Pengelolaan Resiko berbicara seputar alternatif cara untuk mencapai tujuan-tujuan di atas. Pada dasarnya mekanisme Pengelolaan Resiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Membatasi Resiko (Mitigating Risk)
Membatasi Resiko dilakukan dengan menetapkan limit resiko, baik untuk individual exposure maupun portfolio exposure, yang dapat diterima oleh perusahaan. Penetapan Limit Resiko yang dapat diterima oleh perusahaan tidak semata-mata dilakukan untuk membatasi resiko yang diserap oleh perusahaan, melainkan juga harus diarahkan kepada upaya untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan tersebut terkait dengan konsekuensi (Modal/Capital) yang muncul dari angka-angka resiko yang dihasilkan dari proses pengukuran resiko. Artinya penetapan batas resiko dengan berbagai konsekuensi (finansial) yang muncul kemudian harus menghasilkan struktur neraca maupun rugi laba yang optimal bagi para pemegang saham.
2. Mengelola Resiko (Managing Risk)
Sebagaimana kita ketahui, nilai exposure yang dimiliki oleh perusahaan dapat bergerak setiap saat sebagai akibat pergerakan di berbagai faktor yang menentukan di pasar. Dalam kondisi demikian, maka angka yang dihasilkan dari proses pengukuran resiko di awal (munculnya exposure) akan berkurang validitasnya. Artinya bisa jadi profile resiko akan berubah sehingga tidak lagi dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham. Untuk itu maka dibutuhkan suatu proses untuk mengembalikan profil resiko kembali kepada profil yang memberikan hasil optimal bagi pemegang saham. Proses dimaksud dilakukan melalui berbagai jenis transaksi yang pada dasarnya merupakan upaya untuk :
a. Menyediakan cushion/buffer untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin muncul dalam hal resiko yang diambil terealisir.
b. Mengurangi/menghindarkan perusahaan dari kerugian total (total loss) yang mucul dalam hal resiko terealisir
c. Mengalihkan resiko kepada pihak lain
3. Memantau Resiko (Monitoring Risk)
Pemantauan resiko pada dasarnya adalah mekanisme yang ditujukan untuk dapat memperoleh informasi terkini (updated) dari profile resiko perusahaan. Sekali lagi, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses membangun kesadaran tentang resiko di seluruh komponen organisasi perusahaan, suatu proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat terhadap resiko.
V. Tahap Monitor dan Pengendalian
Tahap yang terakhir dalam siklus manajemen resiko adalah monitor dan pengendalian resiko

Resiko pada Bank Syariah


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:233320540; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-460793160 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:410854559; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1487206610 814380982 586046644 -177411114 -141107762 -1583431284 -1529321124 1238905848 631927524 826424380;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l2 {mso-list-id:470634849; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1439186058 102629822 595752292 -634868764 -440358542 -480210914 1371824422 1712240744 45262596 -690443458;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level2 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:665474597; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1547281420 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:683442048; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1315231112 1175476274 -733207774 1039332122 -1336505702 -1716091966 380922696 61927884 -1095843124 -1197833022;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:•; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l4:level2 {mso-level-start-at:866; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l5 {mso-list-id:824782948; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1584267068 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l6 {mso-list-id:984357526; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:528924330 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l7 {mso-list-id:1143742875; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-915088000 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l8 {mso-list-id:1164004264; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-444055734 39197492 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l9 {mso-list-id:1189837100; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-16762646 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l10 {mso-list-id:1621956123; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1101773682 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l10:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l11 {mso-list-id:1740244255; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1091202992 466489006 -1558525728 -1151044046 37414846 590124910 112639122 -891783566 -1990457622 -1385780314;} @list l11:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l11:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l12 {mso-list-id:1839073789; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:985975546 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l12:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l13 {mso-list-id:2092310161; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1686737712 -77573856 -1196905362 -1629610148 -2138932350 -1524068796 1220958350 -1332192432 1604076288 -1401263612;} @list l13:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l13:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:–; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Bank Syariah tidak lagi terasa asing di pendengaran kita. Di setiap kota mulai beroperasional dan melayani setiap masyarakat yang ingin bertransaksi menggunakan prinsip syariah Islam. Awal keberadaannya mungkin kurang mendapatkan respon baik, namun seiring dengan keberhasilannya menunjukkan kinerja yang baik, seolah semua mata melirik dan mulai berpaling untuk memenuhi kebutuhan akan produk dan jasa perbankan yang selama ini kental dengan nuansa sistem bank konvensional.
Di luar konteks perdebatan akan keberadaan sistem bunga yang masih belum juga selesai, secara bisnis bank syariah menunjukkan hasil yang tidak mengecewakan. Kinerja yang telah dicapai tentu tidak akan berhenti begitu saja karena masih ada peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain kekuatan yang dimiliki karena sebagai pendatang yang relatif masih baru tentu sisi kelemahannya masih ada, belum lagi ancaman yang jika tidak diwaspadai akan berpengaruh negatif bagi bank syariah, hal yang tentu tidak dikehendaki. Teknologi, tenaga pemasar, kurangnya sosialisasi dan promosi mungkin beberapa kelemahan yang harus segera diatasi. Untuk itu perlu mencari, memilih dan melaksanakan suatu strategi yang dirancang dan disesuaikan dengan kondisi perusahaan untuk memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang untuk mengembangkan bisnis bank syariah.

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 05/08/PBI/2003 Definisi Risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian Bank. Manajemen Risiko adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank. Dalam hal bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) memiliki pengalaman kerugian karena Risiko Hukum, reputasi, Strategis, dan atau Kepatuhan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, Bank wajib menerapkan Manajemen Risiko terhadap risiko dimaksud.

Manajemen dalam bahasa arab disebut dengan idarah . Secara istilah ialah alat untuk merealisasikan tujuan umum. Eddie Cade menyatakan, bahwa definisi risiko berbeda-beda, tergantung pada tujuannya. Definisi risiko yang tepat dilihat dari sudut pandang Bank adalah, exposure terhadap ketidakpastian pendapatan. Sedangkan Philip Best menyatakan bahwa risiko adalah kerugian secara finansial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Risiko Bank adalah keterbukaan terhadap kemungkinan rugi (exposure to the change of loss). Sedangkan menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI), risiko bisnis Bank adalah risiko yang berkaitan dengan pengelolaan usaha Bank sebagai perantaraan keuangan. Manajemen Risiko adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank dan UUS

Cakupan Manajemen Risiko :

1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi;

2. Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit;

3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian Risiko serta sistem informasi Manajemen Risiko; dan

4. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.


Penerapan Manajemen Risiko wajib disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan Bank. Penerapan manajemen risiko yang efektif mencakup (menurut BI):

a. Pengawasan aktif Komisaris & Direksi

b. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit

c. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko serta sistem

informasi manajemen risiko;

d. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh

Kemampuan pengelolaan risiko semakin disadari sebagai salah satu key success factor kelangsungan usaha suatu institusi keuangan, sejalan dengan meningkatnya tantangan usaha yang dipicu:

1. Proses globalisasi yang meningkatkan saling ketergantungan antara sektor keuangan suatu negara dengan negara lainnya

2. ketatnya persaingan usaha dan kemajuan teknologi informasi yang mendorong semakin variatif dan kompleksnya produk keuangan

Secara umum risiko diinterpretasikan sebagai sebuah ketidakpastian atas suatu posisi yang dalam konteks perbankan risiko merupakan potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian Bank. Jenis risiko yang dihadapi perbankan meliputi Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Reputasi, Risiko Hukum, Risiko Strategik, Risiko Kepatuhan (PBI 5/8/2003).

Bank dianggap memiliki ukuran dan kompleksitas usaha yang tinggi antara lain apabila memenuhi salah satu kondisi berikut :
1. Bank yang memiliki total aktiva sebesar Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah)
2. Bank yang aktif secara internasional (internationality active banks), yaitu Bank yang memiliki kantor cabang di beberapa negara lain atau Bank yang merupakan kantor cabang dari Bank yang berkantor pusat di luar negeri.
3. Bank yang memiliki 30 (tiga puluh) kantor cabang atau lebih;
4. Bank yang memiliki 150.000 (seratus lima puluh ribu) nasabah atau lebih; dan atau
5. Bank yang memiliki tingkat keragaman yang tinggi dalam transaksi/produk/jasa.

· Jenis Risiko bank syariah menurut Risk Management Guide IFSB (2004):

1. Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Reputasi* à sebagaimana bank konvensional

2. Equity Investment Risk

terkait dengan sharing risiko investasi ketika bank masuk dalam sebuah partnership (syirkah)

3. Rate of return risk

Terkait dengan perubahan ekspektasi return pemilik dana investasi

Secara umum potensi perbedaan karakteristik risiko pada bank syariah (dibandingkan bank konvensional) bersumber dari kewajiban memenuhi prinsip syariah maupun dampak dari variasi akad yang digunakan (IFSB,2004):

1. Mulai dari berbagai tahap risiko karena non-sifat mengikat kontrak dalam beberapa instrument

2. risiko transformasi (mis. Dari pasar risiko untuk risiko kredit untuk murabahah)

3. risiko yang terkait dengan eksposur mereka sendiri (sebagai pemasok atau lessor) secara paralel transaksi

4. perbedaan berbagai prosedur mitigasi risiko

5. tidak hanya gadai barang tertentu tetapi (mungkin) penyuluhan ke agen-jenis kontrak (misalnya di badan bank perlu untuk mengidentifikasi risiko-investor kembali )

Kajian Bank Indonesia (2003) menyimpulkan disamping risiko perbankan secara umum perbankan syariah memiliki keunikan dalam hal:

Potensi adanya risiko investasi (income risk/equity investment risk)

Risiko likuiditas yang spesifik terkait dengan perbedaan return (rate of return risk)

Market risk yang spesifik dari perubahan harga persediaan

Legal risk yang spesifik terkait dengan transaksi menggunakan prinsip syariah

Risiko reputasi yang dikaitkan juga dengan pemenuhan prinsip syariah dalam operasional bank

Pengaturan Manajemen Risiko Bank Umum secara garis besar mencakup:

Risk Governance

Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Komite Manajemen Risiko

Risk Management Pillars

4 pilar manajemen risiko: pengawasan aktif komisaris dan direksi; kebijakan, prosedur dan penetapan limit; identifikasi, pengukuran, monitoring dan sistem informasi manajemen risiko; sistem pengendalian intern

Disclosure

laporan tahunan (pelaksanaan dan arah kebijakan), laporan profil risiko dan laporan produk/aktivitas baru

RESIKO KREDIT

Prinsip 2.1: IIFS harus mempunyai tempat dalam suatu strategi untuk pembiayaan, menggunakan berbagai instrumen sesuai dengan Syariah `ah, yang mana ia mengakui potensi eksposur kredit yang mungkin timbul di berbagai tahap dari berbagai perjanjian pembiayaan.
Prinsip 2.2: IIFS akan melakukan due diligence meninjau sehubungan counterpart sebelum menentukan pilihan yang tepat instrumen pembiayaan Islam.
Prinsip 2.3: IIFS harus sesuai metodologi untuk mengukur dan pelaporan kredit eksposur risiko yang timbul di bawah setiap instrumen pembiayaan Islam.
Prinsip 2.4: IIFS harus mempunyai tempat dalam Syariah `ah-compliant teknik mitigasi risiko kredit yang sesuai untuk masing-masing instrumen pembiayaan Islam

RESIKO PASAR
Prinsip 4.1: IIFS harus di tempat yang tepat untuk kerangka kerja manajemen risiko pasar (termasuk pelaporan) mengenai semua aset dilaksanakan, termasuk yang tidak siap memiliki pasar dan / atau yang berhubungan dengan volatilitas harga tinggi.

RESIKO LIKUIDITAS
Prinsip 5.1: IIFS harus mempunyai tempat dalam sebuah kerangka pengelolaan likuiditas (termasuk pelaporan) mempertimbangkan secara terpisah dan pada keseluruhan dasar mereka eksposur likuiditas sehubungan setiap kategori account saat ini, tidak terikat dan terbatas investasi account.
Prinsip 5.2: IIFS risiko likuiditas akan menganggap mereka setara dengan kemampuan untuk memiliki cukup recourse pada Syariah `ah-compliant dana untuk mengurangi risiko tersebut.

RESIKO OPERASIONAL
Prinsip 7.1: IIFS harus mempunyai tempat yang cukup dalam sistem dan kontrol, termasuk Dewan Syariah `ah / Penasihat, guna memastikan kepatuhan Syariah` ah peraturan dan prinsip-prinsip.
Prinsip 7.2: IIFS harus mempunyai mekanisme di tempat yang tepat untuk menjaga kepentingan semua dana penyedia layanan. Di mana IAH dana commingled dengan IIFS dana sendiri, yang IIFS akan memastikan bahwa dasar untuk aset, pendapatan, alokasi biaya dan keuntungan yang didapatkan, diterapkan dan dilaporkan secara konsisten dengan IIFS’s pemegang amanah tanggung jawab.

Rate of Return RESIKO
Prinsip 6.1: IIFS akan membentuk suatu manajemen risiko yang komprehensif dan proses pelaporan untuk menilai potensi dampak dari faktor-faktor yang mempengaruhi harga pasar dari laba atas aset dibandingkan dengan tingkat yang diharapkan kembali untuk investasi nasabah (IAH).
Prinsip 6.2: IIFS harus mempunyai tempat yang tepat dalam kerangka untuk mengelola risiko terlantar komersial, di mana berlaku.

RESIKO INVENTASI EKUITAS
Prinsip 3.1: IIFS harus mempunyai tempat yang tepat dalam strategi, manajemen risiko dan pelaporan dalam proses terhadap karakteristik risiko investasi ekuitas, termasuk Mudharabah dan Musharakah investasi.
Prinsip 3.2: IIFS akan memastikan bahwa mereka adalah metodologi penilaian yang sesuai dan konsisten, dan akan menilai potensi dampak dari mereka pada metode perhitungan keuntungan dan alokasi. Metode harus saling disetujui antara IIFS dan Mudharib dan / atau Musharakah mitra.
Prinsip 3.3: IIFS akan menentukan dan menetapkan strategi keluar mengenai kegiatan investasi ekuitas mereka, termasuk penyuluhan dan penebusan kondisi untuk Mudharabah dan Musharakah investasi, sesuai dengan persetujuan dari lembaga Dewan Syariah `ah.

PENGAWASAN BERBASIS RESIKO

Penerapan manajemen risiko oleh perbankan diikuti pula oleh pengembangan sistem pengawasan berbasis risiko oleh Bank Indonesia. Tujuan utama pengawasan berbasis risiko adalah “to minimize overall regulatory burden and make the most effective use of scarce supervisory resources”. Sebagai bagian sistem pengawasan berbasis risiko, salah satu perangkat penilaian performa bank syariah yang digunakan adalah penilaian tingkat kesehatan (TKS) à PBI 9/1/2007

    1. TKS bank syariah menilai berbagai aspek yang mempengaruhi kinerja bank syariah baik dari sisi finansial maupun manajerial.
    2. Dari sisi finansial, faktor yang dinilai meliputi kecukupan permodalan, kualitas aset, kualitas income (termasuk efisiensi), kecukupan likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.
    3. Indikator penilaian yang digunakan pada dasarnya mencerminkan intensitas berbagai jenis risiko yang dihadapi bank syariah.
    4. Dari sisi manajerial penilaian kualitas manajemen bank meliputi penilaian atas kualitas good corporate governance secara umum, kualitas manajemen risiko dan kepatuhan terhadap regulasi baik yang mengatur aspek prudensial maupun penerapan prinsip syariah.

BAGAN PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN

Bagan diatas merupakan salah satu metode penilaian tingkat kesehatan yang dilakukan pada Bank Indonesia. Metode ini dikenal dengan nama CAMELS.

“CAMEL ratings are based only on internal operations, they measure only the current financial condition of a bank and do not take into account regional or local economic developments that may pose future problems but that are not yet reflected in the bank’s condition” – Federal Deposit Institution Council, Amerika Serikat

sistem penilaian kesehatan bank di Indonesia relatif sama- kalau tidak bisa dikatakan mengacu- ke sistem penilaian yang diterapkan di Amerika Serikat. Jika dikaitkan dengan tanggung jawab terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan bahwa sistem penilaian kesehatan bank di Indonesia pun akhirnya kurang peka terhadap usaha-usaha bank untuk ikut memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Secara makro jelas Bank Indonesia punya mekanisme lain dalam upaya mempengaruhi perekonomian, misalnya dengan memainkan instrumen moneter. Tapi persoalannya disini adalah mungkinkah Bank Indonesia memberikan insentif lebih besar lagi kepada bank yang memberikan kontribusi nyata dalam upaya-upaya peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat?

Jika kita lihat struktur atau komponen penilaian CAMELS yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 serta ketentuan pelaksanaannya sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004. Semua komponen terlihat lebih mengarah pada ukuran-ukuran kinerja perusahaan secara internal, mulai dari permodalan, kekayaan, manajemen, keuntungan, dan likuiditas. Jika dibandingkan sistem penilaian kesehatan sebelumnya yaitu dengan metoda CAMEL, sistem yang berlaku sekarang memang lebih komprehensif, atau bisa diartikan lebih banyak komponen atau rasio-rasio yang dinilainya, termasuk penambahan komponen baru yaitu Sensitivity to market risk (S). Sebagai lembaga keuangan yang juga mengambil alih resiko dalam pengelolaan dana masyarakat, kepekaaan terhadap resiko pasar tidak bisa dipungkiri merupakan prinsip perbankan yang tidak bisa ditawar. Tapi masih mungkinkah pihak Bank Indonesia memperluas pengertian kepekaan tersebut, misalnya kepekaan terhadap pembangunan perekonomian? Atau mungkinkah program Corporate Social Responsibility (CSR) digunakan sebagai faktor penambah dalam sistem penilaian kesehatan bank? Sedangkan dalam UU perbankan nomor 7 tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 10 tahun 1998 disebutkan bahwa perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.

Bank Indonesia sendiri mengatakan bahwa CSR tersebut sudah menjadi kecenderungan global, sebagai wujud penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang selanjutnya diatur melalui PBI nomor 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG bagi bank umum. Selain itu, CSR terkait juga dengan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yang disepakati untuk diadopsi oleh 189 negara yang menghadiri KTT Milenium PBB pada bulan September 2000. Bahkan Indonesia sendiri telah berinisiatif menyelenggarakan pertemuan di Jakarta yang menghasilkan Deklarasi Jakarta mengenai MDG di Asia-Pasifik pada tanggal 5 Agustus 2005. Dan dua tujuan pertama dari MDG adalah mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan serta menuntaskan tingkat pendidikan dasar. Sudahkan pihak perbankan nasional ikut berpartisipasi dalam pencapaian tujuan MDG yang sudah menjadi komitmen global dan nasional tersebut?

Pada sistem penilaian sebelumnya justru ada sistem insentif yang diberikan kepada bank yang memberikan kreditnya ke Usaha Kecil yaitu minimal 20% dari kredit yang disalurkan. Pelaku usaha kecil ini berjumlah lebih dari 43 juta atau 99,8 persen dari toal pelaku usaha dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 70 juta atau 89.8 persen dari jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri (sumber dari Kementrian KUKM). Bank Indonesia mungkin punya alasan kuat untuk menghilangkan faktor penilaian tambahan tersebut pada sistem penilaian yang baru. Alasannya bisa saja karena pemberlakuan equal treatment terhadap semua debitur tanpa melihat kapasitas dan skala usahanya. Atau karena kesulitan pihak bank dalam menyalurkan ke usaha kecil karena masalah administrasi atau faktor resikonya?

Penilaian aspek manajemen untuk sistem CAMELS yang baru secara umum terdiri dari :

(1) manajemen umum- diantaranya penerapan good corporate gonernance yang juga merupakan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tersendiri;

(2) penerapan sistem manajemen resiko- diantaranya pengawasan intensif dari dewan komisaris dan direksi; dan

(3) Kepatuhan Bank- diantaranya BMPK dan Prinsip Mengenal Nasabah.

Perhitungan CAMELS dan penyampaian hasilnya memang bersifat rahasia atau tidak dipublikasikan ke umum. Dengan demikian, sebagian besar data-datanya memang tidak ada di laporan keuangan yang dipublikasikan ke umum. Sebagai contoh, komponen yang digunakan untuk menilai “S” terdiri dari tiga yaitu :

(1) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mencover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan Potential Loss Suku Bunga (=Eksposur Trading Book + Banking Book x fluktuasi Suku Bunga);

(2) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk meng-cover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan Potential Loss Nilai Tukar (=Eksposur Trading Book valas + Banking Book Valas x Fluktuasi Nilai Tukar);

(3) Kecukupan penerapan Sistem Manajemen Risiko Pasar (Market Risk).

Dua komponen yang pertama bersifat kuantitatif yang berkaitan dengan kesiapan pihak bank dalam menghadapi resiko tingkat suku bunga dan resiko nilai tukar. Kesiapan tersebut pada prinsipnya ditunjukkan dengan kemampuan modal yang “dilebihkan”- maksudnya bank menyediakan modal lebih dari nilai modal minimum yang ditetapkan. Ekses modal digunakan untuk meng-cover atau menutupi kerugian akibat fluktuasi tingkat suku bunga dan nilai tukar. Tetapi sayangnya “data mentah”- untuk perhitungan tersebut tidak dapat diperoleh olah masyarakat umum, kecuali kita memperolehnya dari pihak internal bank- yang rasanya memang sulit didapatkan karena mungkin tergolong sensitif atau rahasia. Selain itu, perhitungan CAMELS ini, pada tahap awalnya bersifat “self-assessment” yaitu dihitung berdasarkan penilaian dari pihak bank sendiri. Namun penilaian akhirnya tetap setelah melalui proses konfirmasi atau pemeriksaan oleh pihak Bank Indonesia.

Kita bisa saja menggunakan “proksi” atau cara pendekatan lain yang setidak-tidaknya mendekati cara penilaian versi CAMELS mengenai “resiko pasar” tersebut. Mencari ukuran “tandingan” tersebut bisa menjadi topik penelitian, yang mudah2an menjadi informasi yang bisa dimanfaatkan oleh para investor- seperti yang dimaksudkan oleh Karinu. Dan rasanya sah-sah saja kita membuat sistem penilaian versi “peneliti”-selama kita bisa mempertanggungjawabkannya secara ilmiah dan akhirnya bisa “dipercaya” oleh masyarakat atau setidaknya investor. Karena banyak juga lembaga independen yang melakukan pemeringkatan kinerja bank dengan metodenya masing-masing.

SISTEM PENGAWASAN BANK SYARIAH

DPS dan Manajemen Resiko Bank Syaria’ah

Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) di perbankan syariah  syariah memiliki peran penting dan strategis dalam penerapan prinsip syariah di bank syariah. DPS bertanggung jawab untuk memastikan semua produk dan prosedur bank syariah sesuai dengan prinsip syariah. Karena pentingnya peran DPS tersebut, maka dua Undang-Undang di Indonesia mencantumkan keharusan adanya DPS tersebut di perusahaan syariah dan lembaga perbankan syariah, yaitu Undang-Undang UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dengan demikian, secara yuridis, Dewan Pengawas Syariah (DPS) di lembaga perbankan menduduki posisi yang kuat, karena keberadaannya sangat penting dan strategis. Menurut UU No 40 Tahun 2007 Pasal 109 :

(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah.

(2) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

(3) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.

Berdasarkan Undang-Undang tersebut, setiap perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah. Sejalan dengan itu,  Undang-Undang No 21 Tahun 2008 Pasal 32 menyebutkan :

1. Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.

2. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

3. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan  Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Berdasarkan kedua Undang-Undang tersebut kedudukan DPS sudah jelas dan mantap serta sangat menentukan pengembangan bank syariah dan perusahaan syariah.

Hasil Penelitian Bank Syariah

Menurut hasil penelitian Bank Indonesia (2008) kerjasama dengan Ernst dan Young yang dibahas dalam seminar akhir tahun 2008 di Bank Indonesia, salah satu masalah utama dalam implementasi manajemen resiko di perbankan syariah adalah peran Dewan Pengawas Syariah yang belum optimal. Peran DPS yang belum optimal tersebut disimpulkan para peneliti sebagai kesenjangan utama manajemen risiko yang harus diperbaiki di masa depan. Jenis manajemen risiko yang terkait erat dengan peran DPS adalah risiko reputasi yang selanjutnya berdampak pada displaced commercial risk, seperti resiko likuiditas dan resiko lainnya.  Jika peran DPS tidak optimal dalam melakukan pegawasan syariah terhadap praktik syariah sehingga berakibat pada pelanggaran  syariah complience, maka citra dan kredibilitas bank syariah di mata masyarakat menjadi negatif, sehingga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada bank syariah bersangkutan. Hal inilah yang dikatakan oleh Shanin A.Shayan  CEO and Board Member of Barakat Foundation

“The biggest risk facing the global Financial System is not a fall in its earning power but most importantly a loss of faith and credibility on how it work”s

Jadi menurutnya resiko terbesar menghadapi system keuangan global bukanlah kesalahan tentang kemampuan menciptakan laba, tetapi yang lebih penting adalah kehilangan kepercayaan dan kredibiliatas tentang bagaimana operasional kerjanya. Di sinilah, peran DPS perlu dioptimalkan, agar mereka bisa memastikan segala produk dan sistem operasinal bank syariah benar-benar sesuai syariah. The role of syarih Board : to ensure that every transaction complies with Islamic Law, Untuk memastikan setiap transaksi sesuai dengan hukum Islam, anggota DPS harus memahami ilmu ekonomi dan perbankan dan berpengalaman luas di bidang hukum Islam. Dengan demikian kualifikasi menjadi anggota DPS mestilah memahami ilmu ekonomi dan keuangan serta perbankan. Namun, sangat disayangkan, masih banyak DPS yang belum memahami ilmu ekonomi keuangan dan perbankan. Selain mereka tidak memahami ilmu tersebut, mereka juga masih banyak yang tidak melakukan supervisi dan pemeriksaan akad-akad yang ada di perbankan syariah. Padahal menurut ketentuannya, Dewan Pengawas Syariah bekerja secara independen dan bebas untuk meninjau dan komentar pada semua kontrak dan transaksi (The Sharia Supervisory Board works independently and is free to review and comment on all contracts and transactions)

Peran Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) :

1. DPS adalah seorang ahli (pakar) yang menjadi sumber dan rujukan dalam penerapan prinsip-prinsip syariah termasuk sumber rujukan fatwa.

2. DPS mengawasi pengembangan semua produk untuk memastikan tidak adanya fitur yang melangar syariah

3. DPS menganalisa segala situasi yang  belum pernah terjadi sebelumnya yang tidak didasari fatwa di   transaksi perbankan untuk memastikan kepatuhan dan kesesuaiannya kepada syariah.

4. DPS  menganalisis segala kontrak dan perjanjian mengenai transaksi-transaksi di bank syariah  untuk memastikan kepatuhan kepada syariah.

5. DPS  memastikan  koreksi  pelanggaran dengan segera (jika ada) untuk mematuhi Syariah. Jika ada pelanggaran, anggota DPS harus mengkoreksi penyimpangan itu dengan segera agar disesuaikan dengan prinsip syariah

6. DPS  memberikan supervise untuk program pelatihan syariah bagi staf Bank Islam

7. DPS  menyusun sebuah laporan tahunan tentang  neraca bank syariah  tentang kepatuhannya kepada syariah.. Dengan pernyataan ini seorang DPS memastikan kesyariahan laporan keuangan perbankan syariah.

8. DPS melakukan supervisi dalam pengembangan dan penciptaan  investasi yang sesuai syariah dan produk pembiayaan yang inovatif.

Untuk menjalankan tugas-tugas tersebut, maka seorang DPS mesti memenuhi kualifikasi tertentu. Artinya, untuk menjadi DPS tidak sembarang orang, sebagaimana terjadi selama ini. DPS tidak cukup hanya mengerti ilmu keuangan dan perbankan sebagaimana juga tidak bisa hanya ulama dan cendikiawan muslim yang tak mengerti operasional perbankan dan ilmu ekonomi keuangan. Dengan demikian, seorang DPS haruslah scholars of high repute with extensive experience in law, economics and banking systems and specialising in law and finance as prescribed by Islamic Sharia make up the DIB’s Fatwa & Sharia Supervision Board. (Dubai Islamic Banking,2008)

Seorang DPS seharusnya adalah sarjana (ilmuwan) yang memiliki reputasi tinggi dengan pengalaman luas di bidang hukum, ekonomi dan sistem perbankan dan khusus dalam bidang hukum dan keuangan.Mengacu pada kualifikasi DPS tersebut di atas, maka bank-bank syariah di Indonesia perlu melakukan restrukturisasi, perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik dan mengangkat DPS dari kalangan ilmuwan ekonomi Islam yang berkompeten di bidangnya. Hal ini mutlak perlu dilakukan agar perannya bisa optimal dan menimbulkan citra positif bagi pengembangan bank syariah di Indonesia Kesalahan bank-bank syariah di Indonesia mengangkat DPS, yakni mengangkat orang yang sangat terkenal di ormas Islam atau terkenal dalam ilmu keislaman (bukan syariah), tetapi tidak berkompeten dalam bidang perbankan dan keuangan syariah. Sebagian DPS  tidak mengerti operasional perbankan syariah dan tidak optimal mengawasi banknya. Realita ini menguntungkan bagi manajemen perbankan syariah, karena mereka lebih bebas berbuat apa saja, karena pengawasannya sangat longgar.Tetapi dalam jangka panjang hal ini justru merugikan gerakan ekonomi syariah, tidak saja bagi bank syariah bersangkutan tetapi juga bagi gerakan ekonomi dan bank syariah secara keseluruhan dan kemajuan bank syariah di masa depan. Karena itu, tidak aneh jika banyak masyarakat yang memandang bahwa bank syariah sama dengan bank konvensional.

Namun harus diakui, bahwa sebagian DPS bank syariah  sudah berperan secara optimal, tetapi masih lebih banyak lagi yang belum optimal. Inilah yang harus ditangani Bank Indonesia, DSN MUI dan bank-bank syariah sendiri. Oleh karena itu, Undang-Undang yang memposisikan DPS yang demikian strategis, harus diimplementasikan dengan tepat dan cepat, Untuk itu Setiap Manajemen Bank Syariah harus melakukan  formalisasi peran dan keterlibatan DPS dalam memastikan pengelolaan risiko ketidakpatuhan atas peraturan dan prinsip Syariah. DPS wajib diberikan ruang kantor yang di dalamnya terdapat staf yang dapat memberikan pelayanan data-data keuangan, laporan keuangan, redaksi akad-akad, proses penerapan akad-akad, dan sebagainya.

Manrisk


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Abtechia; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Hirosh; mso-font-alt:Symbol; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:79375928; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:593149116 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:188378932; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1536634338 -1831193484 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.5in;} @list l2 {mso-list-id:239759620; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-959021158 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:453839222; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-445228114 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:557017825; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1413895992 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:805439216; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-185664930 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l6 {mso-list-id:1100688012; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1740845696 1301827144 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.5in;} @list l7 {mso-list-id:1205144409; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:592374966 -1546882128 -1881141440 2082640752 -1441990742 -1131617110 38328700 -347169980 399171590 -967955634;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:•; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l8 {mso-list-id:1349410189; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1742218118 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l9 {mso-list-id:1603030631; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:856090540 1025145428 2004784380 -47671950 -1603479480 -689131746 -1311617110 -1528927706 -1073717220 -1782793668;} @list l9:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:•; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”,”serif”;} @list l10 {mso-list-id:1774125134; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:235684870 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l10:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l11 {mso-list-id:1914466423; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:848990120 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l11:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l12 {mso-list-id:1988589180; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:746623502 2048191380 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l12:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l13 {mso-list-id:2083092660; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1994917252 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l13:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Risk Management

Risk Management pada dasarnya adalah proses menyeluruh yang dilengkapi dengan alat, teknik, dan sains yang diperlukan untuk mengenali, mengukur, dan mengelola risiko secara lebih transparan. Sebagai sebuah proses menyeluruh Risk Management menyentuh hampir setiap aspek aktivitas sebuah entitas bisnis, mulai dari proses pengambilan keputusan untuk menginvestasikan sejumlah uang, sampai pada keputusan untuk menerima seorang karyawan baru.

Risk management atau management resiko bisa di artikan bermacam-macam tergantung apa yang menjadi pokok permasalahan. Definisi resiko yang dikemukakan oleh para ahli dapat kita lihat dari ulasan di bawah ini :

Arthur Williams dan Richard, M. H.

”Resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu”

A. Abas Salim

”Resiko adalah ketidaktentuan (uncertainty) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss)”

Soekarto

”Resiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa”

Herman Darmawi

”Resiko adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dengan yang diharapkan”.

Prof Dr.Ir. Soemarno,M.S.

”Suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi disebut resiko”

Sri Redjeki Hartono

”Resiko adalah suatu ketidakpastian di masa yang akan datang tentang kerugian”

Subekti

“Resiko kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena sutau kejadian di luar kesalahan salah satu pihak”

Ahli Statistik

Resiko adalah derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

Vaughan

Definisi risiko :

· Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

· Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

· Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

“Resiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan perusahaan”

Isto

“Resiko adalah bahaya yang dapat terjadiakibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang”

Dengan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak dapat diduga / tidak diinginkan. Jadi merupakan ketidak pastian atau kemungkinan terjadinya sesuatu, yang bila terjadi akan mengakibatkan kerugian. Dengan demikian risiko mempunyai karakterisitik :

a.

Merupakan ketidak pastian atas terjadinya suatu peristiwa.

b.

Merupakan ketidak pastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian.

Pengertian Resiko

Atau jika dilihat secara ilmiah, sebuah resiko bisa di artikan :

Risk = Threats x Vulnerabilities x Impact

Threats disini contohnya ancaman teknologi, alam, atau perbuatan manusia yang dapat menyebabkan kerugian. Vulnerabilities merupakan kelemahan dari keamanan sistem informasi yang dapat menjadi ancaman, sebagai contoh : membuat passwords yang mudah diketahui oleh orang lain, database tidak dilindungi dengan passwords.

Salah satu cara mudah untuk mengurangi resiko adalah dengan melakukan pengontrolan untuk mengurangi berbagai kelemahan pada sistem kita, dapat dilakukan dengan menambal kekurangan-kekurangan yang ada pada sistem kita, memakai software-software anti-malware, dan adanya pengawasan yang tepat pada semua pintu masuk di sistem.

Impact dapat di artikan sebagai dampak yang ditimbulkan dari resiko tersebut.

Manajemen Resiko

Secara umum manajemen resiko bertugas untuk :

· melakukan identifikasi resiko yang akan terjadi

· memperkirakan dampak yang akan terjadi pada bisnis kita jika resiko itu terjadi

· membuat keputusan finansial yang tepat mengenai dampak yang telah diperkirakan.

· Mengimplementasikan program penanggulangan resiko tersebut dan secara kontinu melakukan pengukuran dan perkiraan apakah program yang telah dijalankan sudah efektif atau masih membutuhkan perbaikan? Ingat, mengelola resiko bukan merupakan aktivitas sesaat tetapi merupakan proses yang terus menerus akan berlangsung sehingga selalu ada pengontrolan, pengukuran, evaluasi, dan perbaikan.

Siklus Manajemen Resiko :

Risk%20Management%20Cycle

Dari gambar siklus diatas dapat dikatakan dalam pengelolaan sebuah resiko ada 4 tahap utama yang harus dilewati :

1. Assess à Manaksir atau memperkirakan

· Melakukan identifikasi informasi kristis assets

· Menemukan kemungkinan ancaman dari assets yang telah diidentifikasi

· Mengidentifikasi kelemahan sistem yang dapat menjadi ancaman

· Menghitung besar resiko tersebut

2. Evaluate

Ada dua pendekatan dalam mengevaluasi suatu resiko, yaitu :

a. Kuantitas

Pendekatan kuantitas ini lebih mudah ditampilkan dan dimengerti karena output-an dalam angka. Namun, untuk memperoleh angka tersebut dibutuhkan usaha yang cukup keras. Untuk menghitung dalam bentuk satuan uang dampak yang akan terjadi sangatlah sulit.

b. Kualitas

Menggunakan metode score dan pengalaman dari para pekerja serta konsultan untuk memperoleh score tersebut.

3. Manage

Setelah kita telah memberikan score pada setiap resiko yang terjadi maka tahap selanjutnya adalah mengurutkan resiko tersebut dari resiko yang mempunyai score tertingi sampai terendah. Hal ini akan membantu kita untuk mengambil keputusan resiko mana yang harus pertama kali kita kelola.

Ada 4 cara untuk menghadapi suatu resiko :

· Reject the Risk – cenderung mengabaikan tantangan untuk menghadapi resiko tersebut dengan harapan resiko tersebut akan hilang. Bertahan menggunakan pendekatan ini jarang sekali berhasil.

· Accept the Risk – biasanya pendekatan ini digunakan jika cost yang dibutuhkan untuk melakukan pengontrolan untuk mengurangi resiko akan lebih besar dibandingkan jika resiko itu terjadi.

· Transfer the Risk – salah satu pendekatan yang dapat dilakukan jika cost untuk melakukan pengontrolan untuk mengurangi resiko lebih besar bila dibandingkan dengan memindahkan resiko tersebut kepada pihak lain, seperti pihak asuransi

· Mitigate the Risk – mengurangi resiko tersebut dengan management.

4. Measure

Melakukan pengukuran dari aksi yang telah diambil pada tahap sebelumnya. Pengukuran ini harus dilakukan secara kontinu.

Semua orang menyadari bahwa dunia penuh dengan ketidak pastian, kecuali kematian, yang meskipun demikian juga tetap mengandug ketidakpastian didalamnya, antara lain mengenai : kapan dan karena apa kematian itu terjadi. Dimana ketidak pastian mengakibatkan adanya risiko (yang merugikan) bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih-lebih dalam dunia bisnis, ketidakpastian beserta risikonya merupakan sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja, malahan harus diperhatikan secara cermat, bila orang menginginkan kesuksesan. Risiko tersebut antara lain : kebakaran, kerusakan, kecelakaan, pencurian, penipuan, kecurangan, penggelapan dan sebagainya, yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak kecil.Sehubungan kenyataan tersebut semua orang (khususnya pengusaha) selalu harus berusaha untuk menanggulanginya, artinya berupaya untuk meminimumkan ketidakpastian agar kerugian yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau paling tidak diminumkan.

Namun, dalam kesehariannya resiko tidak dapat disamakan dengan ketidakpastian. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut :

MACAM-MACAM RESIKO
Risiko dapat dibedakan dengan berbagai macam cara, antara lain :

1.

Menurut sifatnya risiko dapat dibedakan kedalam :

a.

Resiko Murni (risiko yang tidak disengaja), adalah risiko yang apabila terjadi tentu menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa disegaja.
Contoh : risiko terjadinya kebakaran, bencana alam, pencurian, dsb.

b.

Resiko Spekulatif (risiko disengaja), adalah resiko yang sengaja ditimbullkan oleh yang bersangkutan, agar terjadinya ketidakpastian memberikan keuntungan kepadanya.
Contoh : resiko produksi, resiko moneter (kurs valuta asing).

c.

Resiko Fundamental, adalah risko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang dan yang menderita tidak hanya satu atau beberapa orang saja, tetapi banyak orang.
Contoh : risiko terjadinya kebakaran, bencana alam, resiko perang, polusi udara.dsb.

d.

Resiko Khusus, adalah risiko yang bersumber pada peristiwa yang mandiri dan umumnya mudah diketahui penyebabnya, seperti kapal kandas, pesawat jatuh, tabrakan mobil dan sebagainya.

e.

Resiko Dinamis, adalah risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan (dinamika) masyarakat di bidang ekonomi, ilmu dan teknologi, seperti risiko keusangan, risiko penerbangan luar angkasa. Kebalikannya disebut,
Resiko Statis, seperti risiko hari tua, risiko kematian dan sebagainya.

2.

Menurut sumber / penyebab timbulnya, risiko dapat dibedakan kedalam :

a.

Resiko Intern, yaitu risiko yang berasal dari dalam, : kebakaran yang berasal dari rumah si tertanggung sendiri.

b.

Resiko ekstern, yaitu risiko yang berasal dari luar , seperti risiko kebakaran dari rembetan rumah yang bersebelahan, bencana alam, pencurian, perampokan dan sebagainya.

MENILAI PENGARUH RISIKO

Tiga factor yg mempengaruhi konsekuensi jika suatu risiko benar-benar terjadi :

1. Sifatnya ; risiko yang menunjukkan masalah yg muncul bila ia terjadi

2. Ruang lingkupnya; menggabungkan kepelikannya (seberapaseriusnya masalah ini ? ) dengan keseluruhan distribusi ( berapa banyak proyek yg akan dipengaruhi atau berapan banyak pelanggan terganggu ? )

3. Timingnya; mempertimbangkan kapan dan untuk berapa lama pengaruh itu dirasakan. Rekayasa Perangkat Lunak Bab 6 Halaman 18 Seorang manajer proyek mungkin menginginkan berita buruk terjadi segera mungkin tetapi dalam beberapa kasus penundaan lebih lama akan lebih baik.

Langkah-langkah yg direkomendasikan untuk menentukan konsekuensi keseluhan dari suatu resiko :

a. Tentukan probabilitas rata-rata dari nilai kejadian untuk masing-masing komponen risiko

b. Dengan mengunkan tabel 6.2, tentukan pengaruh untuk masing-masing komponen berdasarkan kreteria yg diperlihatkan.

c. Lengkapi tabel risiko dan analsis hasilnya seperti dijelaskan sebelumnya di bab 6 ini. Tim proyek harus melihat tabel risiko pada interval yg regular mengevaluasi lagi masing-masing risiko untuk menentukan kapan keadaan baru menyebabkan probabilitas dan pengaruh berubah. Akibatnya diperlukan penambahan risiko baru ke tabel, mengganti risiko yg tidak relevan dan mengubah pemosisian relatif dari risiko lainnya.

Bagaimanapun, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Risk Management bukanlah sekedar angka statistik, teknik ataupun teknologi. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses membangun kesadaran tentang risiko di seluruh komponen organisasi, suatu proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat (khususnya terhadap risiko).

Kerangka Kerja Risk Management

Sebagai sebuah proses, kerangka kerja Risk Management pada dasarnya terbagi dalam tiga

tahapan kerja :

1. Identifikasi Risiko

Identifikasi Risiko adalah rangkaian proses pengenalan yang seksama atas risiko dan komponen risiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan risiko yang tepat. Identifikasi Risiko adalah pondasi dimana tahapan lainnya dalam proses Risk Management dibangun.

2. Pengukuran Risiko

Pengukuran Risiko adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu risiko, baik secara individual maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha. Pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan risiko yang terarah dan berhasil guna.

3. Pengelolaan Risiko

Pengelolaan risiko pada dasarnya adalah rangkaian proses yang dilakukan untuk meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi sampai pada batas yang dapat diterima. Secara kuantitatif upaya untuk meminimalisasi risiko ini dilakukan dengan menerapkan langkahlangkah yang diarahkan pada turunnya (angka) hasil ukur yang diperoleh dari proses pengukuran risiko.

Identifikasi Risiko

Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi risiko dimulai dengan pemahaman tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai risiko. Sebagaimana telah didefiniskan di atas, maka risiko adalah : tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu/tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada suatu kurun/periode tertentu (time horizon). Bertitik tolak dari definisi tersebut maka terdapat dua tolok ukur penting di dalam pengertian risiko, yaitu :

a. Tujuan (yang ingin dicapai)/Objectives

Untuk dapat menetapkan batas-batas risiko yang dapat diterima, maka suatu perusahaan harus terlebih dahulu menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Seringkali ketidak jelasan mengenai tujuan-tujuan yang ingin dicapai mengakibatkan munculnya risikorisiko yang tidak diharapkan.

b. Periode Waktu (Time Horizon)

Periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat risiko yang dihadapi, sangatlah tergantung pada jenis bisnis yang dikerjakan oleh suatu perusahaan. Semakin dinamis pergerakan faktor-faktor pasar untuk suatu jenis bisnis tertentu, semakin singkat periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat risiko yang dihadapi. Contoh, seorang manajer pasar uang di suatu bank mestinya akan melakukan pemantauan atas tingkat risiko yang dihadapi secara harian. Di lain pihak seorang manajer portofolio kredit/capital market, mungkin akan menerapkan periode waktu 1 bulan untuk melakukan pemantauan atas tingkat risiko yang dihadapi.

Pemahaman yang benar atas kedua tolok ukur tersebut akan sangat menentukan validitas dan efektifitas dari konsep Risk Management yang akan dibangun. Tahapan selanjutnya dari proses identifikasi risiko adalah mengenali jenis-jenis risiko yang mungkin (dan umumnya) dihadapi oleh setiap pelaku bisnis. Khusus untuk industri perbankan, salah satu rujukan yang digunakan dalam merumuskan jenis-jenis risiko yang dihadapi oleh kalangan perbankan adalah apa yang tercantum di dalam Core Principle for Effective Banking Supervision (Basel Core principles) September 1997, yang tergabung di dalam Compendium of documents produced by the Basel Committee on Banking Supervision, February 2000. Jenis-jenis risiko menurut dokumen tersebut adalah :

1. Risiko Kredit (Credit Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan counterparty (debitur) dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai yang disyaratkan oleh kontrak/ perjanjian. Risiko ini tidak hanya muncul dari kredit/pinjaman (loan) melainkan juga meliputi komponen-komponen lain, baik on maupun off balance sheet seperti Garansi, Akseptasi, Securities Investment, dll.

Pada sebuah bank resiko kredit didefinisikan sebagai kemampuan debitur membayar kembali pokok, bunga atau kewajiban lainnya kepada bank. Risiko ini dikelola dengan menetapkan kebijakan dan prosedur yang mencakup pembentukan, penjaminan, pemeliharaan dan penagihan atas semua kredit, guna memastikan bahwa profil risiko berada dalam kisaran yang dapat diterima. Kisaran tersebut ditentukan berdasarkan batasan (limit) portofolio bank secara keseluruhan maupun secara terpisah untuk setiap lini bisnis. Batasan portofolio mempertimbangkan rencana bisnis dan kemampuan perusahaan, industri atau konsentrasi dan kecenderungan lainnya, kondisi ekonomi, profitabilitas produk serta perkiraan kerugian kredit. Fungsi manajemen risiko kredit di setiap lini bisnis adalah memastikan adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara – manajemen yang berwenang memberikan kredit, hingga batasan yang ditentukan berdasarkan pengalaman dan catatan historis masing-masing serta karakteristik bisnis – dan Grup Pengelolaan Risiko Terintegrasi yang menilai setiap kredit secara mandiri dan teratur. Penelaahan lebih lanjut dilakukan oleh Audit Internal. Manajemen Risiko Kredit Bank Danamon mengacu pada praktek internasional yang biasa dikenal dengan “best practices” dalam bidang Pengelolaan Risiko Kredit. Prioritas utama adalah kepatuhan terhadap peraturan Bank Indonesia, hukum dan peraturan lainnya yang relevan. Kami sedang menuju kepada penerapan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Basel II, yang diperkirakan tercapai pada tahun 2007, guna mengantisipasi penerapan Basel II di Indonesia.

2. Risiko Negara dan Pengalihan (Country and Transfer Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kondisi lingkungan ekonomi, sosial, politik dari negara asal counterparty (debitur). Risiko ini muncul dalam transaksi pinjaman lintas negara.

3. Risiko Pasar (Market Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan harga di pasar. Risiko ini harus dilihat dalam konteks prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku saat ini. Risiko ini tampak jelas pada aktivitas trading seperti debt/equity instruments, foreign exchange, atau komoditas.

Definisi lain dari Risiko Pasar atau dikenal juga dengan risiko harga, terkait dengan instrument yang diperdagangkan pada berbagai pasar keuangan. Value at Risk atau VaR merupakan ukuran risiko pasar guna memastikan agar Bank memiliki modal yang dapat memenuhi ketentuan minimum CAR yang ditentukan oleh Bank Indonesia. VaR adalah perkiraan potensi kerugian maksimum akibat risiko harga, dengan interval kepercayaan 99%. Artinya, dalam 99% kejadian, potensi kerugian maksimum lebih kecil dari jumlah tersebut. Bank menerapkan pembatasan berbasis VaR dalam mengelola keseluruhan risiko eksposur.

Risiko pasar diawasi dan diukur setiap hari berdasarkan model-model harga yang telah dibentuk sedangkan posisi perdagangan dan investasi disesuaikan dengan harga pasar setiap hari. Grup manajemen risiko Bank mempertahankan pendekatan yang konservatif dengan memastikan bahwa semua posisi berada dalam batasan selera dan toleransi risiko yang ditetapkan. Kebijakan risiko pasar dievaluasi dan diperbaharui setiap bulan agar memenuhi persyaratan Bank Indonesia dan Basel II. Bank menelaah lebih lanjut risiko pasar melalui penerapan secara teratur skenario kondisi buruk yang mungkin terjadi (stress test), yang bisa menyebabkan perubahan drastis harga aset atau instrumen yang dimiliki atau diperdagangkan. Stress test khusus tersebut melengkapi penilaian VaR.

4. Risiko Tingkat Bunga (Interest Rate Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan tingkat bunga di pasar.

5. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakmampuan bank untuk mengakomodasi berkurangnya pasiva/liabilities atau untuk membiayai/mendanai peningkatan di sisi aktiva/assets atau Risiko Likuiditas didefinisikan sebagai kemampuan bank mendanai atau memenuhi kewajiban yang jatuh tempo setiap hari. Bank Danamon mensyaratkan bank menyediakan dana yang memadai dalam setiap kondisi. Adanya kerangka kerja likuditas membuat manajemen dapat dengan jelas membedakan antara likuiditas yang diperlukan untuk aktivitas perdagangan dan aktivitas perbankan tradisional. Jatuh tempo asset dan kewajiban diawasi setiap saat untuk memastikan Bank mampu memenuhi semua kewajibannya tanpa harus melikuidasi aset sebelum waktunya sehingga harus

membayar denda. Komite Aset dan Kewajiban (ALCO) bertanggung jawab mengelola suku bunga dan risiko likuiditas di buku Bank (posisi non perdagangan). Divisi Risiko Pasar dan Likuiditas mendukung ALCO dan melapor kepada Kepala Manajemen Risiko Terintegrasi yang melapor langsung kepada Presiden Direktur.

6. Risiko Operasional (Operational Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pelanggaran atas ketentuanketentuan internal maupun atas kebijakan-kebijakan bank atau Risiko Operasional adalah risiko kerugian langsung atau tidak langsung karena ketidakcukupan atau kegagalan proses internal dan umumnya merujuk pada peristiwa yang diakibatkan oleh fisik/teknologi, kesalahan manusia/kesengajaan, risiko hokum dan terjadinya penipuan. Tidak terdapat kasus kecurangan (fraud) yang material per 31 Desember 2005 (lihat “Kasus Litigasi” halaman 69). Kerangka manajemen risiko operasional yang sistematik diterapkan guna memastikan agar semua risiko operasional terpantau dan terkendali tepat waktu dan penilaian sendiri yang komprehensif dilakukan secara teratur di semua bidang kunci Bank. Evaluasi independen terhadap efektivitas dan integritas pengendalian dilakukan untuk menyempurnakan setiap langkah proses. Bank Danamon mengelola risiko operasional sesuai ketentuan dan peraturan BI serta membandingkannya dengan praktek internasional terbaik.

7. Risiko Hukum (Legal Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakcukupan (inadequacy) atau kesalahan dalam pemberian pendapat hukum maupun dokumentasi hukum.

8. Risiko Reputasi (Reputational Risk)

Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan di dalam operasional bank khususnya kegagalan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan yang dikenakan atas bank.

Pengukuran Risiko

Pengukuran Risiko dibutuhkan sebagai dasar (tolok ukur) untuk memahami signifikansi dari akibat (kerugian) yang akan ditimbulkan oleh terealisirnya suatu risiko, baik secara individual maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha bank. Lebih lanjut pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan risiko yang terarah dan berhasil guna.

A. Dimensi Risiko

Signifikansi suatu risiko maupun portofolio risiko dapat diketahui/disimpulkan dengan melakukan pengukuran terhadap 2 dimensi risiko yaitu :

i. Kuantitas (quantity) risiko, yaitu jumlah kerugian yang mungkin muncul dari terjadinya/terealisirnya risiko. Dimensi kuantitas risiko dinyatakan dalam satuan mata uang.

ii. Kualitas (quality) risiko, yaitu probabilitas (likelihood) dari terjadinya/terealisirnya risiko. Dimensi kualitas risiko dapat dinyatakan dalam bentuk : confidence level, matrix risiko (tinggi, sedang, rendah), dan lain-lain yang dapat menggambarkan kualitas risiko Dua dimensi ini harus muncul sebagai hasil dari proses pengukuran risiko.

B. Alat Ukur Risiko

Sebagai suatu konsep baru yang sedang terus dikembangkan, terdapat berbagai macam metode pengukuran risiko yang muncul dan diujicobakan oleh para pelaku pasar.

i. Value At Risk

Salah satu metode yang banyak diterima dan diaplikasikan saat ini adalah apa yang dikenal dengan metode Value At Risk (VAR). Value At Risk pada saat ini dapat dianggap sebagai metode standar di dalam mengukur Risiko Pasar (Market Risk), dan mulai banyak digunakan untuk mengukur Risiko (Portofolio) Kredit. Per definisi Value At Risk adalah : kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu/periode tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu (“predicted worst-case loss with a specific confidence level over a period of time”). Konsep VAR berdiri di atas dasar observasi statistik atas data-data historis dan relatif dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang bersifat obyektif. Upaya untuk mengukur risiko telah dilakukan orang dengan berbagai cara. Berbagai indikator yang sering digunakan oleh bank dalam mengukur dan mengelola Risiko Kredit atas portofolio kreditnya misalnya : penetapan rating, pembatasan tenor, pembatasan sector industri, penetapan watch list, dsb. Risiko Pasar misalnya : volatilitas, sensitivitas, dsb. Risiko Tingkat Bunga misalnya : Liquidity Gap, Interest Rate Gap, dsb. VAR, dapat dikatakan, merangkum seluruh substansi yang ingin ditangkap dari alat-alat atau metodemetode tradisional tersebut. VAR juga megakomodasi kebutuhan untuk mengetahui potensi kerugian atas exposure tertentu. VAR juga dapat diterapkan pada berbagai level transaksi, mulai dari individual exposure sampai pada portfolio exposures. Dua hal yang tidak dapat ditawarkan oleh alat metode tradisional seperti disebutkan di atas. Secara umum ada empat pertanyaan dasar yang akan dijawab dengan menggunakan konsep

VAR yaitu :

Ø Berapa banyak bank akan mengalami kerugian?

Ø Apakah kerugian tersebut akan terkonsentrasi pada satu aspek tertentu (obligor, area, jenis risiko)?

Ø Exposure mana yang akan meminimalkan risiko dari exposure yang lain?

Ø Berapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan mengambil risiko tersebut?

ii. Stress Testing

Salah satu keterbatasan konsep VAR adalah bahwa VAR hanya efektif diterapkan dalam kondisi pasar yang normal. Konsep VAR tidak dirancang untuk memprediksikan terjadinya suatu kejadian yang akan menyebabkan runtuhnya pasar (unexpected event) seperti perang, bencana alam, perubahan drastis di bidang politik, dll. Konsep Stress Testing memberikan jawaban untuk masalah tersebut. Konsep Stress Testing dirancang sebagai suatu pendekatan subyektif terhadap risiko yang bagian terbesarnya tergantung pada human judgement. Konsep ini adalah sebuah rangkaian proses eksplorasi, mempertanyakan, dan berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan (khususnya terkait dengan risiko) pada saat terjadinya sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” (very unlikely) terjadi. Di dalam konsep Stress Testing dilakukan hal-hal sebagai berikut :

Ø Menyusun beberapa skenario (terjadinya unexpected event)

Ø Melakukan revaluasi (risiko) atas portofolio

Ø Menyusun kesimpulan atas skenario-skenario tersebut

Stress Testing harus dilaksanakan secara periodik dengan melibatkan Senior Management.

iii. Back Testing

Suatu model hanya berguna jika model tersebut dapat menerangkan realitas yang terjadi. Demikian pula dengan model pengukuran risiko. Untuk menjaga reliability dari model, maka secara periodik suatu model pengukuran harus diuji dengan menggunakan suatu konsep yang dikenal dengan Back Testing.

Contoh kasus pengukuran resiko dalam kehidupan sehari-hari :

Penggunaan pegukuran resiko pengendalian dalam penetapan lingkup pengujian substantive atas saldo persediaan.

Abstrak : Pengukuran resiko pengendalian merupakan suatu proses evaluasi efektivitas suatu pengendalian intern entitas dalam mencegah atau mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan. Resiko pengendalian harus ditaksir menurut asersi laporan keuangan. Tujuan dilakukannya pengukuran resiko pengendalian adalah untuk membantu auditor dalam mengevaluasi resiko adanya salah saji material dalam laporan keuangan. Laporan keuangan bukan merupakan tanggung jawab auditor, melainkan tanggung jawab manajemen perusahaan. Sedangkan tanggung jawab auditor terletak pada opini atas wajar atau tidaknya laporan keuangan yang diterbitkan dan apakah laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Oleh karena itu, auditor harus benar-benar teliti dalam melaksanakan audit sebelum menerbitkan opini terhadap laporan keuangan.

Pemetaan resiko

Perusahaan tidakperlu menakuti resiko, karena tidak semua resiko yang perlu ditangani, ada yang perlu mendapatkan perhatian khusus dan ada pula yang perlu diabaikan, itu sebabnya perlu dibuat peta resiko. Pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui skala prioritas yang harus ditangani terlebih dahulu, karena tidak semua resiko berdampak pada perusahaan.

Pengelolaan Risiko

Jika risiko-risiko yang dihadapi oleh perusahaan telah diidentifikasi dan diukur maka pertanyaan selanjutnya adalah : “Profil/Struktur Risiko yang bagaimana yang terbaik bagi perusahaan?” Pertanyaan tersebut mengarah kepada upaya untuk :

1. Meningkatkan kualitas dan prediktabilitas dari pendapatan perusahaan (earning) untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham (shareholder value)

2. Mengurangi kemungkinan munculnya tekanan pada kemampuan keuangan (financial distress)

3. Mempertahankan marjin operasi (operating margin) Konsep Pengelolaan Risiko berbicara seputar alternatif cara untuk mencapai tujuan-tujuan di atas.

Pada dasarnya mekanisme Pengelolaan Risiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Membatasi Risiko (Mitigating Risk)

Membatasi Risiko dilakukan dengan menetapkan limit risiko, baik untuk individual exposure maupun portfolio exposure, yang dapat diterima oleh perusahaan. Penetapan Limit Risiko yang dapat diterima oleh perusahaan tidak semata-mata dilakukan untuk membatasi risiko yang diserap oleh perusahaan, melainkan juga harus diarahkan kepada upaya untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan tersebut terkait dengan konsekuensi (Modal/Capital) yang muncul dari angka-angka risiko yang dihasilkan dari proses pengukuran risiko. Artinya penetapan batas risiko dengan berbagai konsekuensi (finansial) yang muncul kemudian harus menghasilkan struktur neraca maupun rugi laba yang optimal bagi para pemegang saham.

2. Mengelola Risiko (Managing Risk)

Sebagaimana kita ketahui, nilai exposure yang dimiliki oleh perusahaan dapat bergerak setiap saat sebagai akibat pergerakan di berbagai faktor yang menentukan di pasar. Dalam kondisi demikian, maka angka yang dihasilkan dari proses pengukuran risiko di awal (munculnya exposure) akan berkurang validitasnya. Artinya bisa jadi profile risiko akan berubah sehingga tidak lagi dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham. Untuk itu maka dibutuhkan suatu proses untuk mengembalikan profil risiko kembali kepada profil yang memberikan hasil optimal bagi pemegang saham. Proses dimaksud dilakukan melalui berbagai jenis transaksi yang pada dasarnya merupakan upaya untuk :

a. Menyediakan cushion/buffer untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin muncul dalam hal risiko yang diambil terealisir.

b. Mengurangi/menghindarkan perusahaan dari kerugian total (total loss) yang mucul dalam hal risiko terealisir

c. Mengalihkan risiko kepada pihak lain

3. Memantau Risiko (Monitoring Risk)

Pemantauan risiko pada dasarnya adalah mekanisme yang ditujukan untuk dapat memperoleh informasi terkini (updated) dari profile risiko perusahaan. Sekali lagi, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses membangun kesadaran tentang risiko di seluruh komponen organisasi perusahaan, suatu proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat terhadap risiko.

Dalam mengelola risiko pasar, Bank menggunakan sistem Summit di garda depan, tengah dan belakang. Straight-Through-Processing (STP) digunakan untuk instrument nilai tukar valuta asing dan penyelesaian semi-manual dalam transaksi obligasi, pasar uang dan derivatif. Semua perdagangan harus memiliki batasan settlement risk yang tepat guna menghindari risiko kegalan, batasan tersebut diadministrasikan oleh Divisi Risiko Pasar dan Likuiditas. Kejadian risiko operasional dan data kerugian dilacak dengan sistem baru yang dipersiapkan untuk penerapan Basel II, guna mengelola dan memantau risiko operasional. Saat ini Bank dapat mengawasi semua cabang konvensional. Disamping itu, setiap kuartal semua unit melaksanakan penilaian sendiri atas risiko operasional. Tabel pengukuran proses kunci dan metodologi penilaian disempurnakan untuk memperkuat pengendalian. Dengan demikian, dapat dipetakan unit-unit yang berisiko tinggi, penyebab dan program perbaikannya. Laporan pengawasan tersebut beserta semua parameter risiko lainnya membentuk laporan profil risiko bagi manajemen dan Bank Indonesia.

Komite Manajemen Risiko

Fungsi utama Komite Manajemen Risiko adalah melakukan pengujian berulang dan menyeluruh terhadap seluruh arsitektur pengelolaan risiko, dalam rangka menjalankan perannya sebagai penilai kualitas dan efektivitas pengelolaan risiko Bank. Tugas, komposisi dan frekuensi pertemuannya dijabarkan di bawah ini:

1. Komite Risiko dan Audit Komisaris (RAC) Komite Risiko dan Audit

mengemban tanggung jawab mengevaluasi pengembangan dan mengawasi penerapan manajemen risiko, kebijakan kredit dan kebijakan risiko, strategi kredit dan tingkat toleransi risiko Bank, termasuk menetapkan batasan (limit) untuk debitur, segmen industri dan segmen pasar tertentu. Termasuk dalam tanggung jawab tersebut adalah memastikan bahwa potensi kerugian dapat diidentifikasi dan dimitigasi sebelumnya.

2. Komite Manajemen Risiko Terintegrasi (IRMC)

Komite Manajemen Risiko Terintegrasi adalah komite yang dibentuk untuk menerapkan manajemen risiko yang efektif dan memastikan dilakukannya pengawasan risiko melalui penetapan toleransi risiko, batasan dan strategi pengelolaan risiko.

Contoh penerapan : XL sebagai pelopor penciptaan nilai korporat.

Untuk meningkatkan kepastian keberhasilan usaha dan penciptaan nilai korporat, XL telah menerapkan Kerangka Kerja Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Risk Management/ERM) secara holistik dan terintegrasi ke semua unit organisasi. Kerangka Kerja ini telah diformalisasikan oleh Dewan Direksi XL dan pada 2006 telah diidentifikasi 34 risiko usaha Perseroan yang material dan telah dianalisa pengaruhnya terhadap kinerja Perseroan. Untuk mencapai kepastian (assurance) atas usaha menekan risiko-risiko tersebut, Dewan Direksi XL menetapkan Indikator Utama Risiko (Key Risk Indicator – KRI) dengan target KRI yang harus dicapai. Dengan penerapan KRI, efektivitas dari kontrol yang ada, dapat dievaluasi dan strategi untuk menekan risiko dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terukur.

Disamping menerapkan ERM, XL juga telah menyusun sebuah Kebijakan dan Rencana Manajemen Kelanjutan Usaha (Business Continuity Management/BCM) secara komprehensif. Kebijakan itu meliputi evaluasi risiko dan kontrol, analisa dampak usaha, kebijakan dan rencana kelanjutan usaha, rencana terhadap keadaan darurat, rencana terhadap krisis dan komunikasi krisis, transfer risiko, dan membangun budaya BCM. Rencana Kelanjutan Usaha mencakup cadangan (redundancy) dan re-routing atas jaringan komunikasi seperti BSC/ MSC/HLR maupun jaringan pendukung seperti billing system, call center, fasilitas kantor, dan fasilitas lainnya.
Semua kebijakan dan rencana atas ERM dan BCM disosialisasikan, diadministrasikan dan dibudayakan ke semua lapisan organisasi dibawah fasilitasi Divisi Manajemen Risiko XL.
Untuk memastikan kesiapan menghadapi keadaan darurat atau bencana, XL membentuk Emergency Response Team (ERT), Damage Assessment & Recovery Team (DART), Crisis Management Team (CMT), Crisis Management Board (CMB), Crisis Communication Team (CCT). Dan untuk menekan dampak keuangan atas suatu bencana, XL juga telah mengasuransikan risiko properti & gangguan usaha  Property & Business Interruption Insurance).

3. Komite Manajemen Risiko Portofolio (PRMC)

Komite Manajemen Risiko Portofolio bertanggung jawab memonitor portofolio asset berisiko Bank secara keseluruhan, mengusulkan batasan portofolio, menilai eksposur risiko, mengevaluasi potensi kerugian pada berbagai skenario stress test dan mengaitkannya dengan kapasitas modal Bank mengatasi risiko-risiko tersebut.

4. Komite Kredit Usaha (BCC)

Komite ini bertanggung jawab memberikan persetujuan atas proposal kredit dan kualitas dari standar penjaminan di setiap jenis usaha. Anggota BCC diberi kewenangan berdasarkan kemampuan dan pengalamannya. Semua kredit harus disetujui oleh paling tidak 2 anggota BCC, yang salah satunya memiliki kewenangan untuk menyetujui kredit tersebut.

5. Komite Aset dan Kewajiban (ALCO)

ALCO bertanggung jawab merancang strategi dan kebijakan dalam pengelolaan risiko buku Bank terkait dengan suku bunga dan likuiditas. ALCO juga memantau dan mengelola ketidak sesuaian antara aset dan kewajiban. Tindakan tepat yang disarankan oleh ALCO dilaksanakan oleh Tresuri.

6. Komite Risiko Operasional (ORC)

ORC memprakarsai tindakan koreksi apabila perlu serta melakukan penyesuaian dan perubahan kebijakan Bank setelah mengevaluasi masalah-masalah operasional yang dihadapi dalam kegiatan usaha yang normal. Pertemuan rutin diselenggarakan untuk membahas dan menyelesaikan masalah-masalah operasional yang utama di tahun 2005.

monitor dan pengendalian resiko

Diperlukan karena:

1. Manajemen perlu memastikan bahwa pelaksanaan pengelolaan resiko berjalan sesuai rencana

2. Manajemen juga perlu memastikan bahwa model pengelolaan resiko cukup efektif

3. Resiko itu sendiri berkembang, maka perlu dipantau perkembangan terhadap kecendrungan kecendrungan perubhan resiko.

Aktifitas analisis risiko mempunyai titik tunggal yg memiliki tujuan untuk membantu tim proyek dalam mengembangkan strategi yg berkaitan dengan risiko. Strategi yg efektif harus :

a. Menghindari risiko

b. Memonitoring risiko

c. Manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan

Langkah-langkah untuk mengurangi turnover staf adalah:

1. Temui staf yg ada, untuk menentukan penyebab keluar

2. Bertindaklah untuk mengurangi penyebab-penyebab yg ada di bawah kontrol manajemen sebelum proyek dimulai

3. Bila proyek dimulai asumsikan turnover akan terjadi dan kembangkan teknik-teknik untuk memastikan kontiunitas pada saat orang keluar

4. Kumpulkan tim proyek sehingga informasi mengenai masing-masing aktivitas pengembangan dapat disebarluaskan

5. Tentukan standar dokumentasi dan buat mekanisme untuk memastikan bahwa dokumen dikembangkan tepat waktu

6. Lakukan kajian antar teman terhadap semua pekerjaan tersebut sehingga lebih dari satu orang yang terbiasa dengan pekerjaan itu

7. Tentukan backup anggota staf untuk setiap teknologi kritis Aktifitas pemonitoran dimulai, manajer proyek memonitor

Factor-faktor yang dapat memberikan suatu indikasi apakah risiko mungkin sedang menjadi lebih atau kurang. Untuk kasus turnover tinggi, factor-faktor yg dapat dimonitor :

1. Sikap umum anggota tim berdasarkan tekanan proyek

2. Tingkat di mana tim disatu – padukan

3. Hubungan interpersonal di antara anggota tim

4. Masalah pontensial dengan kompensasi dan manfaat

5. Keberadaan pekerjakan di dalam perusahaan dan di luarnya

Langkah pengurangan resiko diperlukan bagi definisi standar dokuntasi dan mekanisme untuk memastikan bahwa dokumen dikembangkan secara tepat waktu, guna memastikan kontinuitas. Manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan mengasumsikan bahwa usaha pengurangan telah gagal dan risiko menjadi suatu kenyataan. Contoh, diandaikan proyek sedang berlangsung dengan baik dan sejumlah orang mengatakan akan keluar dari proyek tersebut maka strategi pengurangan telah dilakukan dengan backup , informasi, dokumentasi dan pengetahuan telah disebar ke semua tim. Manajer proyek akan menyesuaikan lagi jadwal dengan fungsi-fungsi yg telah disusun sepenuhnya dan pendatang baru akan ditambah untuk mengejar dan membagun serta akan ditransfer pengetahuan oleh orang akan keluar. Langkah RMMM (Risk Mitigating Monitoring and Management Plan) menambah biaya proyek.

RISIKO KESELAMATAN DAN BAHAYA

Risiko tidak hanya pada proyek itu sendiri tetapi juga pada risiko kegagalan PL dilapangan (pemakai akhir). Bila PL digunakan untuk sistem kontrol, kompleksitas sistem dapat

bertambah dengan urutan naik. Cacat desain yg tidak kentara yaitu sesuatu yg tidak dapat terungkap dan tereliminasi dalam kontrol konvensional berbasis perangkat keras menjadi lebih sulit diungkap pada saat PL digunakan. Keselamatan PL dan analisis bahaya adalah aktifitas jaminan kualitas PL yg berfokus pd indentifikasi dan perkiraan bahaya pontensial terhadap PL dan menyebabkan kegagalan sistem.

Strategi manajemen risiko dapat dimasukkan dalam rencana proyek PL atau langkah manajemen risiko dapat diatur ke dalam RMMM PLAN yg terpisah dimana akan didokumentasikan semua kegiatan yg dilakukan sebagai bagian dari analisis risiko dan oleh manajer proyek digunakan sebagai bagian dari keseluruhan rencana proyek. Uraian untuk RMMM PLAN adalah sebagai berikut :

I. Pengantar

1. Lingkup dan tujuan Dokumen

2. Tinjauan risiko utama

3. Tanggung jawab

a. Manajemen

b. Staf teknis

II. Tabel Risiko Proyek

1. Deskripsi semua risiko di atas yang ditentukan

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi probabilitas dan pengaruh

III. Pengurangan, monitoring, dan Manajemen Risiko

a. Pengurangan

i. Strategi umum

ii. Langkah khusus untuk mengurangi risiko

b. Monitoring

i. Faktor-faktor yang dimonitoring

ii. Pendekatan monitoring

c. Manajemen

i. Rencana kontigensi

ii. Konsiderasi khusus

IV. Jadwal Iterasi Rencana RMMM

V. Kesimpulan

Sasaran dari monitoring risiko (aktifitas penelurusan proyek) yaitu

1. Memperkirakan apakah risiko yang diramalkan benar-benar terjadi

2. Memastikan bahwa langkah aversi risiko yang didefiniskan untuk risiko telah diterapkan secara benar

3. Mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk analisis risiko masa yang akan dating Tugas lain dari monitoring risiko adalah berusaha menentukan risiko asli pada seluruh proyek.

KONSEP PENCEGAHAN KECELAKAAN DAPAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN 4-E YAITU :

1. EDUCATION : Tenaga Kerja harus mendapatkan bekal pendidikan & Pelatihan dalam usaha pencegahan Kecelakaan. Pelatihan K3 harus diberikan secara berjenjang dan berkesinambungan sesuai tugas dan tanggung jawabnya

Contoh :

Pelatihan Dasar K3 untuk Karyawan baru, Pelatihan K3 Supervisor, Pelatihan Manajemen K3.

2. ENGINEERING : Rekayasa dan Riset dalam bidang Teknologi dan Keteknikan dapat dilakukan untuk mencegah suatu kecelakaan

Contoh :
Pemasangan Encinerator Pada Tanggki Bahan Kimia.

Pemasangan Safety Valve pada bejana tekan,

Pemasangan Alat Pemadam otomatis ,

Memberdayakan Robot , Dll

3. ENFORCEMENT : Penegakan Peraturan K3 dan pembinaan berupa pemberian Sanksi harus dilaksanakan secara tegas terhadap pelanggar peraturan K3 . Penerapannya harus konsisten dan konsekwen
4. EMERGENCY RESPONS : Setiap Karyawan atau orang lain yang memasuki tempat kerja yang memiliki potensi bahaya besar harus memahami langkah – langkah penyelamatan bila terjadi keadaan darurat.
Contoh :
– Kebocoran Tangki Bahan Kimia.
– Kebakaran
– Bencana alam, dll

Resiko

ESENSI UTAMA DARI MANAJEMEN RESIKO ADALAH MEMINIMALKAN PENGARUH NEGATIF DARI BERBAGAI RESIKO YANG DIHADAPI DALAM KEGIATAN BISNIS AGAR PELUANG DAN TUJUAN BISNIS DAPAT TERCAPAI SECARA OPTIMAL.

Walaupun pada kenyataannya secara alamiah manajemen resiko telah dilakukan oleh setiap entitas dan pelaku bisnis, namun dalam perkembangannya akhir-akhir ini praktisi bisnis mulai dituntut untuk melakukannya secara profesional, terencana, dan terukur.
Enterprise Risk Management ini akan membahas cara-cara mendeteksi resiko, konsep pengelolaan resiko, bagaimana proses manajemen resiko dan aplikasinya.

• Auditor Internal yang ingin memahami dan memperluas wawasannya dalam pengelolaan risiko bisnis
• Auditor Internal yang ingin menyegarkan pengetahuannya dalam penerapan manajemen risiko yang efektif
• Para Manajer dan eksekutif yang ingin memperluas pengetahuannya dalam mengimplementasikan ERM secara efektif
• Enterprise risk management implementation team leaders and members.

Tujuan
A. Memberikan pemahaman akan pentingnya Penerapan Manajemen Resiko yang Efektif yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan
B. Memahami COSO ERM Framework
C. Membekali Peserta dengan pemahaman yang mendasar mengenai proses manajemen resiko dan teknik aplikasinya dalam operasional perusahaan sehari-hari
D. Dengan menerapkan manajemen resiko secara tepat diharapkan akan membantu manajemen perusahaan dalam pengembangan corporate governance dan melindungi kepentingan stakeholdernya
E. Benchmark, or reinvent, your risk management tools and practices

POKOK-POKOK BAHASAN :

I.   GAMBARAN UMUM MANAJEMEN RESIKO
a).  Esensi Manajemen Resiko
b).  Perkembangan Status dan Praktek Manajemen Resiko
c).  Faktor Kunci Keberhasilan Manajemen Resiko
d).  Kebutuhan terhadap Manajemen Resiko
e).  Tujuan dan Manfaat Manajemen Resiko
f).  Hasil yang Diharapkan dari Penerapan Manajemen Resiko
II.  KONSEP MANAJEMEN RESIKO
III. ENTERPRISE RISK MANAGEMENT FRAMEWORK
IV.  PROSES MANAJEMEN RESIKO
V.   PENERAPAN PROSES MANAJEMEN RESIKO
VI.  STUDI KASUS

Measurement of PEM

Measurement of PEM
1.1. Intra-Year Timing of Earnings Management
Our method is based on the premise that earnings management primarily takes place near the fiscal
year end. With many forces in action, managers have to weigh among alternative motives, calculate a target
earnings level, compare with actual results, and finally decide in what direction and to what degree to
manage earnings. In the early interim periods, there is a great deal of uncertainty concerning both the
management incentives and the actual results. Only later in the year or at the very year-end is the
uncertainty resolved or significantly reduced. Therefore, the closer to the fiscal year end, the less the
uncertainty would be, and the more active earnings management would be. 5
Foster (1986, pp. 225-226) gives a number of examples of such intra-year timing of earnings
management. From an institutional perspective, there are two distinct approaches to interim reporting in
GAAP: the discrete approach views an interim period in the same way as an annual period; the integral
approach views an interim period as a component part of the annual period. APB Opinion 28 generally
favors the integral approach. Under this approach, the fourth quarter becomes a “dumping ground”
(Collins, et al., 1984) in that various adjustments are made in the fourth quarter in order for the interim
results to be consistent with the annual results. Various auditing techniques such as the cutoff test and the
kiting test are designed to deal with the year-end discretion (e.g., Arens and Loebbecke, 1994).
Earnings management may go either direction if not conditional on specific motives. Thus, higher
intensity of earnings management should be reflected in the higher accrual volatility. The increased
incidence of earnings management in the fourth quarter will increase the volatility of fourth quarter
accruals. The other three quarters with relative lower earnings management intensity comprise the base
period for comparison. Formally, we state our working hypothesis as follow:
4
Hypothesis: Earnings Management Leads to First-Order Stochastic Dominance of Fourth Quarter Accrual
Volatility over the Base Period.
1.2. Accrual Volatility
The derivation of PEM indices is based on the relative magnitude of fourth quarter accrual
volatility to the base period of the first three quarters. Accrual volatility is measured by the absolute value
of accruals. We apply the Jones’ Model (1991) to control for mechanical adjustments. The controlling
factors include total assets, change in revenues, and gross property plant and equipment.6
TA = α + β
1×ΔRev + β
2×PPE + β
3×1/Ave_A + ε (1)
The residuals from (1), called discretionary accruals (DA) in the literature, provide an estimate of quarterly
accruals purged of mechanical adjustments. We take the absolute value of discretionary accruals (ADA) as
the basis for deriving PEM2.
1.3. KS Distance and PEM Indices
Our PEM indices are based on comparisons of the distributions of accrual volatility between the
base period and the fourth quarter. For PEM1 and PEM2, we use the Kolmogorov-Smirnov (KS) Distance
to measure first order stochastic dominance of the fourth quarter accrual volatility over the other three
quarters. The KS Distance is the maximum vertical distance between the empirical cumulative distribution
functions of the two random variables. Since the KS Distance follows an asymptotic limiting distribution
given in Smirnov (1939), we can construct an index that not only has the convenient feature of being
bounded in [0,1], but also has the valuable feature of having known statistical properties.7 The KS Distance
does not require the accrual volatility to follow a parametric distribution.
We apply KS Distance to total accruals to get PEM1, and to the residuals from the Jones Model to
get PEM2. Conover (1980) points out that the KS Distance is powerful in the center of the distributions,
even when the distributions are not well behaved. But, it is not powerful for measuring first order stochastic
dominance in the tails of the distributions. To measure the behavior at the right tail of the distribution, we
develop PEM3 and PEM4. For PEM3, we define θ as the value at the 95th percentile of absolute total
accruals (ATA) for the base period, and then find the fraction of fourth quarter ATA exceeding θ. We
5
subtract 5% from this fraction, as 5% is the expected proportion of absolute accruals exceeding θ under the
null hypothesis of no earnings management. The resulting value is PEM3.8 Hence while PEM1 and PEM2
focus on the patterns of “common” earnings management, PEM3 measures the pervasiveness of large
earnings management. We report the result using measures based on Absolute Total Accruals (ATA), but
extensive additional work yielded qualitatively similar results when Absolute Discretionary Accruals
(ADA) are used instead.
The distance between fourth quarter and based period accrual volatility distributions depends on
the magnitude of earnings management and the percentage of firms involved in earnings management.
Assuming a given magnitude of earnings management, we can estimate the pervasiveness from this
distributional distance. PEM4 is derived from a simulation that randomly adds accruals of a given
magnitude to existing observations in the base period and compares the resulting distribution to the fourth
quarter distribution. The simulation can be summarized in the following four steps:
1. For each quarter i, (i = 1, 2, 3), standard deviations of discretionary accruals are calculated
from quarter-specific Jones Model regressions.
2. A simulated accrual with magnitude of one or two standard deviations is added to or subtracted
from the total accruals of a percentageλ of firms randomly chosen from the COMPUSTAT
sample.
3. The Jones Model is re-estimated and corresponding volatility of discretionary accruals are
calculated.
4. The mean and median of the re-estimated volatility are compared with the fourth-quarter
volatility. The percentageλ is slowly adjusted until the mean (median) of simulated accrual
volatility equals to the observed fourth quarter volatility. PEM4 is the critical value λ *.
PEM4 can be interpreted as the percentage of firms engaged in earnings management of a given magnitude.
We should view all PEM indices as ordinal measures at this early stage of methodological development.
6
2. Empirical Results
2.1. Sample Selection
We obtain our sample from the 1997 COMPUSTAT Industrial Files quarterly database, which covers
from the first quarter of 1987 to the third quarter of 1997. The sample consists of all firm/quarters that satisfy
following selection criteria:
1) The necessary firm quarter data have no missing values.
2) The firm is not a financial institution (SIC 6000 to 6999), or unclassified (SIC > 9900).
3) There are at least 24 firm quarter observations per regression where relevant.
Since most firms included in the sample have consecutive quarterly observations in a given year, the third
criterion roughly requires a minimum of six firms per industry per year for sample inclusion. After
discretionary accruals are obtained from the preliminary regressions, we trim our sample by deleting those
firm quarters with discretionary accruals, operating cash flows, or nondiscretionary accruals in the extreme
1% of the entire distribution.
Our final sample comprises 77,574 firm quarters from 4,116 firms in 51 (364) 2-digit (4-digit) SIC
code industries. Table 1 provides the descriptive statistics for the major variables used in the empirical
analysis below. The table is divided into three panels roughly representing the estimation strategy followed in
the analysis. The first panel presents fundamental measures of the sample firms, while the second and third
panels present regression variables used in Tables 2 and 3. Where appropriate, variables are scaled by book
value of assets to facilitate comparison across firms.
Insert Table 1 Here
Overall the firm size distribution based on average assets (Ave_A) for our sample is representative in
that it lies between the distributions for all firms reported by COMPUSTAT and the distribution for NYSE
firms, based on a comparison of the quartile values reported in Table 1 to values extracted from the full
COMPUSTAT universe for the same time period. Similarly, when annualized the distribution of net income
is similar to the distributions for the full COMPUSTAT and NYSE firms over the same time period. Total
accrual (TA) is the difference between net income and operating cash flows (measured by COMPUTSTAT
7
quarterly items 8 and 108, respectively)9, and this variable serves as the starting point for our measures of
PEM. In particular, PEM1 is based on the absolute value of total accruals (ATA). PEM2 is based on accruals
purged of mechanical factors, or absolute discretionary accruals (ADA).
The second panel of Table 1 describes regressors used in the Jones Model (assets is presented in the
previous panel). The third panel shows regressors for seasonal accrual volatility, though dummy variable
distributions are not reported. Discussion of these variables and their use in regressions is deferred to Table 3.
It should be noted here that Tax_diff is defined as the difference between the fourth quarter realization of the
effective tax rate and the estimated rate used in the first three quarters. Hence it is normalized to zero for the
first three quarters, and the summary statistics represent only fourth quarter values.
Insert Tables 2 Here
The estimation of Jones Model is based on the cross-sectional regressions for each combination of
two-digit SIC codes and fiscal year, pooling the quarterly observations within the year (see Subramanyam
(1996) for detail). Hence we estimate a total of 436 regressions for the Jones Model. Table 2 presents the
regression results. Both estimates and tests are consistent with the results in the literature. 10 The mean
adjusted R2 is 6.9%. The discretionary accruals (DAs) are measured as the residuals from the regressions.
The absolute value of DA (ADA) is used as the basis for deriving PEM2 and as the dependent variable in
the examination of the association between accrual volatility and earnings management in Table 3.
2.2. Earnings Management and Seasonal Accrual Heteroskedasticity
Our measurement of PEM is based on the premise that earnings management leads to seasonal
accrual heteroskedasticity. The first step for establishing the validity of our measurement is to show
empirical validity of this working hypothesis. Table 3 provides direct evidence by using regression results
from equation (2):
ADA =α′ z + ε (2)
The dependent variable, ADA, is the absolute value of the Jones Model residual, which provides an estimate
of accrual volatility purged of mechanical factors. When we substitute ATA for ADA, the results are similar
to those in Table 3. Control for mechanical factors using Jones Model does not matter much in our analysis
8
of heteroskedasticity. The approach used in equation (2) is similar to Glesjer’s (1969) approach to
modeling determinants of heteroskedasticity.
We specify four groups of explanatory variables z in Table 3. The first is a set of seasonal dummies
that measure the unconditional seasonal pattern in accrual volatility. The second is a set of industry
dummies to control for differences in accrual patterns across industries due to unobserved factors. The third
group includes potential earnings management drivers suggested in previous literature.11 The fourth group
is intended to measure the differential effect of earnings management drivers in the fourth quarter
compared to the first three quarters, the main variables of interest in Table 3. The empirical significance of
the last set of explanatory variables provides validity to our working hypothesis that earnings management
leads to seasonal accrual heteroskedasticity. This working hypothesis allows us to construct indirect indices
based on quarterly accrual volatility for measuring the pervasiveness of earnings management.
Specification 1 in Table 3 shows the pattern of accruals across quarters and industries. It is
immediately apparent that accrual volatility is higher in the fourth quarter. Specification 2 adds the earnings
management drivers, discussed individually below. Specification 3 uses earnings management drivers
without the quarter and industry effects. The difference between specifications 2 and 3 shows that the
earnings management drivers explain most of the variance and are relatively stable estimates with respect
to the inclusion of the dummies. Specification 4 omits insignificant variables in specification 3 and any
further variables that subsequently become insignificant. The remaining set are all statistically significant at
conventional levels, and show that at least some measures associated with earning management, including
the tax rate, leverage, operating cash flow, and annual loss, are related to fourth quarter differential effects
in accrual volatility. We now discuss individual effects in more detail.
Insert Tables 3 Here
The ten explanatory variables in the “Earnings Management Drivers” group are identified in the
literature as possible drivers of earnings management. For all ten drivers, Table 3 shows either estimates
consistent with presence of earnings management, or statistically insignificant estimates under various
levels of control for seasonal and industry factors. The first driver is regulation: a tighter regulatory
9
environment reduces the firm’s ability to manage accruals in general and in the fourth quarter specifically.
Table 3 shows that the parameter estimates for regulation are negative and significant in both the crosssection
and for the fourth quarter effect.12
Literature suggests that firm size (Ave_A) and age are both positively associated with quality of
information environment.13 Therefore, these two earnings management drivers should be negatively
associated with seasonal heteroskedasticity. Age is measured as the difference between the observation
year and the first year the company’s data appears in either COMPUSTAT or CRSP, whichever is earlier.
Table 3 shows that age has the predicted sign and is statistically significant. Since we use the inverse of
size (consistent with Jones, as above), the expected sign for the size measure in Table 3 is positive. The
estimated effect is negative but statistically insignificant. Size is also insignificant when seasonal and
industry dummies are omitted in specification 3.
Firms are required to make their best estimate of the effective tax rates expected to be applicable
for the full fiscal year and then to apply these rates to interim income. The farther this rate is from the
actual annual rate, the more fourth-quarter adjustment is needed. Hence, the variable Tax_diff is included
in Panel (D) only. Tax_diff measures the difference between the average estimated rate in the first three
quarters and the realized rate as of the end of the year, and normalizes the first three quarters to zero. This
is an approximation of the surprise in the tax rate to the extent that tax rates estimated from data for the first
three quarters are used to form expectations of annual rates. We expect that the surprise will require
adjustments to taxes payable and deferred taxes, and hence have a positive impact on accrual volatility in
the fourth quarter. Specification 2 shows that the effect of Tax_diff is positive and statistically significant,
as predicted. Tax_diff continues to be significant when quarter and industry dummies are dropped.14 It
should be noted that regulation, size, age, and the fourth quarter tax rate surprise might all be viewed either
as causing mechanical or as limiting discretionary adjustments. In either event they should be included if
significant so that any adjustment effects will not be attributed to other regressors.
Higher audit quality should decrease cross-sectional accrual heteroskedasticity by increasing
constraints on managers. The first three quarterly reports are simply reviewed, whereas annual earnings are
10
typically fully audited by CPAs. If the fourth-quarter accrual volatility is mainly due to earnings
management, higher quality auditing should decrease the discretion available to managers and decrease the
variability of fourth-quarter discretionary accruals. We measure audit quality with a dummy variable for
engaging a non-Big-5 audit firm (Auditor). Hence we expect that our proxy should have positive effects in
both cross-section and fourth quarter. The results in Table 3 indicate that audit quality has the predicted
sign in panel (C), but that the marginal impact is negative in the fourth quarter. The negative effect is only
marginally (10%) significant when industry and seasonal dummies are excluded, and drops out entirely in
specification (4).
We expect that looser bond covenant constraints measured in terms of debt/equity ratio will
increase seasonal heteroskedasticity. We include two measures of leverage: Lev1 = total liabilities/total
assets, and Lev2 = long-term debt/total assets. We include two measures because leverage can affect
accrual variance in two different ways. Lev1 is expected to have a positive effect because it measures the
short-term need to manage earnings either up to avoid technical default of debt covenants (Defond and
Jiambalvo, 1994) or down to facilitate renegotiation of debt contracts (DeAngelo, et al., 1994). On the other
hand, Lev2 is expected to have a negative effect because it proxies for restrictions placed by debt contracts
on managers’ choices of accounting procedures (Watts and Zimmerman, 1986, Ch. 9) and creditors’
general monitoring levels. Specification 2 shows that both leverage measures are statistically significant in
the expected directions, both cross-sectionally and in the fourth quarter. Lev1 becomes insignificant in
specification (4).
We include three measures of the effects of cash flows, all with positive expected effects. Our
proxies for this effect include the firm-specific standard deviation of operating cash flow within firm
(SD_OCF); a quarter-specific difference from firm’s median operating cash flow, OCF_m = |current
quarter operating cash flow – firm’s median operating cash flow|; and a quarter-specific difference from
industry median operating cash flow, OCF_indm = |current quarter operating cash flow – industry median
of operating cash flow|. In general, higher variability of operating cash flow will lead to higher crosssectional
and seasonal heteroskedasticity of accruals as managers strive to offset the variability and smooth
11
income. Managers have several reasons for smoothing income, including bonus considerations (Healy,
1985). All three cash flow measures are statistically significant in the expected direction in the cross section
in specifications 2 to 4, but the fourth quarter results are mixed. Finally, firms showing a loss for the year
will exhibit seasonal heteroskedasticity. We define Loss = 1 if net income is negative, 0 otherwise, and thus
expect a positive effect. Basu, et al. (1997) suggested that losses contain more transitory elements. Chen
and Lee (1995) find that bonus-related big baths take place in loss years. Our results indicate the loss effect
is strongly positive in the fourth quarter, when year-end adjustments are made.
Although this list of earnings management drivers is likely not exhaustive, we have examined a
fairly large set of drivers found in the literature. The overall results in Table 3 appear to support our
working hypothesis that the difference in accrual volatility between the fourth quarter and the base period is
attributable to earnings management. We provide additional evidence in support of this later, but for the
moment proceed to construct PEM indices based on seasonal heterocedasticity.
2.3. Distributional Properties of Accrual Volatility
Since the construction of PEM indices is based on first-order stochastic dominance of fourth
quarter accrual volatility over the other three quarters, we conduct a preliminary examination on the
distributionsl properties of accrual volatility in Table 4. Moreover, we examine how much the Jones Model
for mechanical factors affects the distributional properties. We report the mean, standard deviation, first
quartile, median, and third quartiles of the distributions. We conduct t-tests to examine the hypothesis that
fourth quarter accrual volatility stochastically dominates the other three quarters. Since accrual volatility is
not normally distributed, parametric t-tests may be biased. In the next subsection, we apply the
nonparametric KS Distance to measure the first order stochastic dominance.