Tulisan FaurRizki (Artikel Asuransi)

            Resiko merupakan ketidakpastian yang bisa dikuantitaskan yang bisa menyebabkan terjadinya kerugian atau kehilangan. Resiko itu dapat dikategorikan sebagai berikut : 

       Resiko Murni Bentuk resiko yang kalau terjadi akan menimbulkan kerugian (loss) atau tidak menimbulkan kerugian (no loss/break even). Contoh: resiko kebakaran dan resiko kecelakaan.

       Resiko Spekulatif Bentuk Resiko yang kalau terjadi, dapat menimbulkan kerugian (loss), tidak menimbulkan kerugian (no loss/break even), atau mendatangkan keuntungan (gain). Contoh: resiko produksi dan resiko moneter (kurs valuta asing).

       Resiko Fundamental Bentuk resiko yang kalau terjadi, dampak kerugiannya bisa sangat luas atau katastropis. Penyebabnya biasanya tidak menyangkut pribadi. Contoh: resiko perang, gempa bumi, dan polusi udara.

       Resiko Partikular Bentuk Resiko yang berasal dari kejadian tertentu dan dampaknya dirasakan secara lokal. Contoh: resiko kebakaran, resiko pencurian, dan resiko huru-hara.

Resiko erat kaitannya dengan bahaya, perils/bahaya adalah kejadian yang mungkin terjadi atau tidak terjadi. Sumber bahaya tersebut pada dasarnya berasal dari tiga hal:

       Alam, misalnya: bencana alam, seperti: petir, gempa bumi, angin topan, dll.

       Manusia, misalnya: kelalaian, kejahatan seperti: pencurian, perampokan, dll.

       Peralatan/harta benda, misalnya: kecelakaan mobil, korsluiting listrik, kompor meledak, dll.

       Hazard adalah suatu keadaan atau sifat, baik yang berwujud fisik (physical hazards) maupun yang berwujud tingkah laku, karakter dan sifat manusia (moral hazards) yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya bahaya.

Contoh physical hazards:

1. Asuransi Kebakaran

        Instalasi listrik yang tidak baik.

        Penyimpanan bahan yang mudah terbakar.

2. Asuransi Kendaraan Bermotor

       Kepadatan lalu lintas yang tinggi.

       Penggunaan kendaraan untuk taksi.

 

3. Asuransi Tanggung Gugat

    Penggunaan bahan kimia dalam proses industri.

    Pekerjaan pemotongan dan pengelasan. 

4. Asuransi Rangka Kapal

       Usia kapal yang sudah terlalu tua.

       Penggunaan kapal secara tidak teratur.

5. Asuransi Marine Kargo

       Nilai barang yang sangat tinggi.

       Barang yang tidak terkemas baik.

Contoh dari moral hazards:

1. Tertanggung

       Kurang berinisiatif memperkecil kerugian.

       Sifat yang pemarah, pemabok, dsb.

2. Bos & Karyawan

       Hubungan yang kurang baik antara bos dan karyawan.

       Bos yang kurang memperhatikan kondisi tempat kerja.

Resiko, bukanlah hal yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang harus dikelola. Sehingga perlu dilakukan manajemen resiko. Tahapan dalam manajemen resiko adalah sebagai berikut :

Identifikasi dan Evaluasi

Proses kegiatan manajemen resiko merupakan tugas gabungan dari departemen underwriting dan juga loss control service. Kegiatan ini terdiri dari tiga tingkatan kegiatan,yaitu:

       Identifikasi resiko
Dalam tahap ini, yang dilakukan adalah mengidentifikasi resiko apa saja yang mungkin dihadapi.

       Evaluasi resiko
Dalam tahap ini, ada dua faktor yang sangat penting, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu permohonan asuransi, yaitu dampak kerugian (severity) serta tingkat keseringan kejadian (frequency).

 

 

 

 

       Pengawasan resiko
Pada tingkatan ini, perusahaan akan berusaha terus berhubungan dengan tertanggung guna memastikan obyek pertanggungan dalam keadaan stabil dan tidak ada peningkatan resiko.

Resiko Sendiri

Resiko sendiri, atau dikenal dengan istilah own retention atau own risk atau deductible adalah sejumlah nilai tertentu yang harus tertanggung pikul untuk setiap resiko atau kejadian klaim. Nilai resiko sendiri besarnya tergantung pada jenis asuransi dan besarnya peluang terjadi kecelakaan. Resiko sendiri diterapkan pada beberapa jenis asuransi, antara lain asuransi kebakaran, kendaraan bermotor, pengangkutan, contractor all risk. Sedangkan jenis asuransi yang biasanya tidak dikenakan resiko sendiri diantaranya adalah asuransi tanggung jawab hukum (third party liability atau TPL).

Nilai resiko sendiri tercantum pada ikhtisar polis dan umumnya dinyatakan dalam:

  • Nilai yang telah ditentukan, misalnya: Rp 100.000,00
  • Prosentase tertentu, misalnya: 10% dari jumlah uang pertanggungan atau 25% dari nilai klaim yang diajukan; atau
  • Kombinasi, misalnya:
  • 10% dari TSI atau minimal Rp 100.000 mana saja yang lebih besar.
  • 10% dari TSI atau 25% dari nilai klaim, mana saja yang lebih besar.

Contoh:

Asuransi kendaraan yang bernilai s/d 100 juta dan usianya belum melebihi 3 tahun, akan terkena resiko sendiri Rp 150.000. Apabila terjadi musibah sehingga kendaraan tertanggung perlu diperbaiki dengan biaya perbaikan Rp 1.000.000, maka tertanggung akan menanggung sendiri biaya sebesar Rp 150.000 pertama dan sisanya sebesar Rp 850.000 akan ditanggung oleh XYZ. Sedangkan bila biaya perbaikan kendaraan adalah Rp 75.000, maka tertanggung akan menanggung seluruh biaya tersebut, yaitu sebesar Rp 75.000.

Hal ini berarti bila terjadi klaim maka pertama sekali nilai klaim akan dikurangi resiko sendiri yang menjadi tanggung jawab tertanggung. Selisih antara nilai klaim dengan resiko sendiri akan menjadi tanggungan XYZ sepenuhnya hingga maksimum sebesar TSI. Resiko sendiri menunjukkan bahwa walaupun tertanggung telah mengalihkan resiko kepada XYZ, tetapi bila terjadi musibah tertanggung tetap menanggung kerugian secara finansial. Dengan demikian tertanggung wajib berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berkenaan dengan obyek yang dipertanggungkan.  

Untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan kerugian yang ditimbulkan oleh resiko, kita dapat melakukan empat cara:

  1. Menghindari resiko

Cara yang paling jelas dan mudah adalah menghindari resiko.  Kita dapa menghindari kemungkinan resiko luka atau kematian akibat kecelakaan pesawat terbang dengan cara menghindari naik pesawat terbang, atau kita dapa menghindari resiko rugi pada bursa saham dengan tidak membeli saham.  Seringkali menghindari resiko bukan cara yang efektif.

2.      Mengontrol resiko

Kita dapat mengontrol resiko dengan cara pencegahan.  Untuk mencegah kemungkinan kehilangan mobil kita dapat menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti pemasangan kunci ekstra, alarm mobil.

3.      Menerima resiko

Menerima resiko berarti menerima semua tanggung jawab finansial pada resiko tersebut.

  1. Mentransfer resiko

Ketika seseorang mentransfer atau mengalihkan resiko ke pihak lain, orang itu mengalihkan tanggung jawab finansialnya untuk suatu resiko kepada pihak lain dengan membayar jasa tersebut.  Cara paling umum untuk individual , keluarga dan bisnis untuk metode ini biasanya dengan membeli asuransi.

Ketika perusahaan asuransi setuju untuk memberikan pertanggungan asuransi terhadap seseorang, maka perusahaan asuransi tersebut mengeluarkan polis asuransi.  Polis adalah dokumen tertulis yang berisi persetujuan antara perusahaan asuransi dan pemilik polis.  Persetujuan itu sah secara hukum, dimana perusahaan asuransi berkewajiban memberikan sejumlah uang, dikenal sebagai policy benefit atau Uang pertanggungan, ketika sebuah resiko spesifik terjadi.  Sementara itu si tertanggung berkewajiban membayar  sejumlah uang untuk jasa tersebut dikenal sebagai premi.

Secara umum individual dan bisnis dapat membeli polis asuransi untuk menanggulangi tiga tipe resiko: 

  •  
    • Resiko kerusakan properti.
      Seperti kerusakan yang bisa terjadi pada mobil, rumah atau barang-barang berharga lainnya akibat dari kecelakaan, pencurian, kebakaran atau bencana lainnya.
    • Resiko kewajiban.
      Resiko kewajiban termasuk kerugian ekonomis yang ditimbulkan apabila kita menabrak orang lain pada suatu peristiwa kecelakaan.
    • Resiko personal.
      Resiko personal termasuk kematian, kesehatan yang buruk, dan lainnya.

 

Sesuai dengan laporan klaim yang tertanggung sampaikan dan
jika dipandang perlu, pihak asuransi segera melakukan survey atas
obyek asuransi yang terkena musibah untuk memperoleh informasi
yang akurat mengenai musibah yang menimpa obyek tersebut. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengumpulkan dokumen klaim yang diperlukan. Khusus untuk klaim yang cukup besar, pihak asuransi biasanya akan menunjuk badan penilai kerugian (loss adjuster) independen untuk melakukan survey resiko

Resiko tidak dapat dihilangkan secara mutlak dalam suatu proses. Akan tetapi, kita selalu berpikir bagaimana resiko itu diminimalkan sampai batas-batas kerugian yang dapat diterima. Cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan suatu resiko adalah dengan mengidentifikasi, mengukur tingkat resiko, mengontrol resiko-resiko tersebut.

Tujuan dari survey resiko adalah untuk melihat dengan lebih jelas kondisi fisik dan tingkat resiko dari obyek pertanggungan yang akan diasuransikan. Lebih jauh tujuan dari survey resiko adalah untuk menyimpulkan data–data yang kemudian akan diproses dan pada akhirnya menjadi informasi yang disebut dengan analisa resiko. Pada analisa resiko mencakup pengidentifikasian dan pengukuran tingkat resiko. Survey resiko ini dapat dilakukan oleh internal surveyor (staff perusahaan) ataupun oleh external surveyor (independent surveyor).

Dilihat dari aktifitas pelayanan kontrol kerugian, maka survey resiko memiliki 2 keuntungan, yaitu bagi perusahaan asuransi itu sendiri dan pihak tertanggung. Keuntungan yang didapat bagi perusahaan asuransi adalah memperbesar jumlah premi yang masuk dengan mengurangi semaksimal mungkin jumlah klaim. Sedangkan keuntungan bagi tertanggung adalah memperkecil dampak suatu kerugian yang muncul dengan melakukan suatu perbaikan (risk Improvement) sesuai dengan rekomendasi dari perusahaan asuransinya.

Resiko yang dapat diasuransikan. Diantaranya :

      Resiko bersifat homogen atau ada dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan demikian lukisan asli Monalisa akan sulit diasuransikan karena jumlah hanya satu sehingga sulit mengambil tolok ukur nilainya. Sedangkan kerusakan harta benda secara umum, tingkat ganti rugi dapat diukur dari biaya perbaikannya.

      Bentuk Resikonya harus murni dan khusus
Dengan demikian  usaha mencari keuntungan dari asuransi dapat dicegah. Kejadian yang bersifat fundamental jarang yang langsung masuk ke jaminan dasar, kecuali melalui perluasan jaminan atau jaminan secara khusus.

      Resiko yang tidak terduga atau terjadi tiba-tiba
Dengan demikian bangunan yang akan dirobohkan dalam waktu dekat (misalnya karena ada perluasan kota) tidak dapat diasuransikan.

      Resiko yang tidak bertentangan dengan hukum
Resiko denda tilang merupakan Resiko  yang tidak bisa diasuransikan.

      Obyek Resiko harus bisa dinilai atau diukur dengan uang
Contoh: udara di ruangan atau air sumur tidak dapat diasuransikan.

      Resiko yang disertai dengan insurable  interest (kepentingan yang dipertanggungkan).

      Resiko yang ditransfer harus disertai dengan premi yang wajar.

 

Jenis-jenis Asuransi, secara garis besar, bidang asuransi terjadi dari tiga kategori, yaitu:

       Asuransi Kerugian

Jenis Asuransi yang memberikan pertanggungan finansial pada semua resiko kerugian pada properti atau hak milik dari si tertanggung. Terdiri dari asuransi untuk harta benda (property), kepentingan keuangan (pecuniary), tanggung jawab hukum (liability) dan asuransi diri (kecelakaan atau kesehatan).

                        Jenis-jenis produk yang termasuk dalam kategori Asuransi Kerugian

 

      Asuransi Jiwa
            Jenis asuransi yang menyediakan pengalihan kerugian finansial atas bencana yang bisa terjadi pada manusia, baik akibat langsung seperti kematian atau cacat maupun akibat tidak langsung seperti biaya pengobatan, dan kehilangan penghasilan.  Selain berfungsi sebagai proteksi ada juga produk asuransi jiwa yang berfungsi sebagai investasi dan edukasi. Jenis jenis produk yang termasuk asuransi jiwa:

 

       Asuransi Sosial
Adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan pemerintah berdasarkan UU. Maksud dan tujuan asuransi sosial adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan komersial. Contoh asuransi sosial :

  • Asuransi Tenaga Kerja (Astek)

Program asuransi yang melindungi dari para karyawan apabila terjadi musibah yang mengakibatkan karyawan berkurang atau hilang penghasilan dan untuk biaya pengobatan

  • Dana Pensiun

Program asuransi yang bersifat seperti tabungan, dimana setiap bulan sejumlah persentase kecil dari pendapatan dipotong untuk disimpan.  Kelak, apabila karyawan sudah pensiun, maka dana akumulasi ini dapat dicairkan.

 

Dalam menyeleksi dan menerima calon pelanggan yang ingin membeli produk asuransi, Perusahaan asuransi menggunakan beberapa prinsip dasar untuk memutuskan apakah pelanggan tersebut layak untuk diasuransikan.
Prinsip-prinsip yang digunakan adalah:

Insurable interest (kepentingan yang dipertanggungkan) berarti pelanggan mempunyai suatu kepentingan yang dapat diasuransikan.  Hal ini timbul dari hubungan finansial yang diakui hukum. Hubungan tersebut dapat timbul karena:

  • Hukum
    Menurut hukum kebiasaan, seseorang atau harta benda seseorang selain dimiliki oleh orang tersebut, juga dimiliki oleh keluarganya. Dengan demikian, seorang bapak dapat membelikan asuransi untuk anak atau harta benda milik anaknya, demikian pula sebaliknya.
  • Undang-undang
    Misalnya menurut UU, setiap perusahaan angkutan penumpang diharuskan bertanggung jawab apabila ada penumpang yang mengalami kecelakaan. Oleh karena itu perusahaan angkutan tersebut boleh, bahkan diwajibkan, membeli asuransi kecelakaan untuk penumpangnya.
  • Kontrak
    Misalnya dalam suatu kontrak kerja bangunan, kontraktor dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan bangunannya. Dengan demikian, kontraktor tersebut boleh membeli proteksi asuransi  contractor all risk.

Orang dikatakan memiliki insurable interest atas obyek yang diasuransikan bila orang tersebut menderita kerugian keuangan seandainya terjadi musibah atas obyek tersebut.  Apabila terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan dan terbukti bahwa orang tersebut tidak memiliki kepentingan keuangan atas obyek tersebut, maka orang tersebut tidak berhak menerima ganti rugi.

Contoh:

Bapak A mengasuransikan rumah tetangganya (Bapak B). Pada saat terjadi musibah atas rumah tersebut, Bapak A mengajukan klaim ke Asuransi XYZ. Bagaimana penyelesaiannya? XYZ akan menolak klaim tersebut.

Kapan insurable Interest itu harus ada?

  • Untuk jenis asuransi harta benda (properti), insurable interest harus ada pada saat membeli asuransi dan pada saat terjadi klaim.
  • Untuk asuransi marine cargo, yang status barangnya adalah barang dagangan, insurable interest harus ada pada saat klaim terjadi. Alasannya adalah selama dalam perjalanan, barang dagangan tersebut dapat berganti pemilik karena proses jual beli.
  • Untuk asuransi jiwa, insurable interest harus ada pada saat membeli asuransi.

 

 

 

Prinsip utmost good faith (itikad terbaik) merupakan prinsip bahwa setiap tertanggung berkewajiban memberitahukan secara jelas dan teliti mengenai segala fakta penting yang berkaitan dengan obyek yang diasuransikan  serta tidak mengambil untung dari asuransi. Prinsip ini juga berlaku bagi perusahaan asuransi, yaitu kewajiban menjelaskan risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan secara jelas dan teliti. Kewajiban untuk memberikan fakta penting tersebut berlaku:

  • Sejak perjanjian mengenai asuransi dibicarakan sampai polis keluar.
  • Pada saat perpanjangan polis.
  • Pada saat terjadi perubahan pada polis dan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perubahan itu.  

Prinsip ini menjadi sangat penting, karena:

  • Secara umum tertanggung mengetahui lebih lengkap obyek yang akan diasuransikan dibandingkan dengan penanggung.  
  • Perhitungan besarnya premi sangat dipengaruhi oleh beban risiko.  

Fakta-fakta yang harus diungkapkan tertanggung

  • Situasi dan kondisi obyek, secara internal  (konstruksi, barang yang ada, dll)
    maupun eksternal (lingkungan sekitar);
  • Pengalaman klaim yang pernah ada;
  • Pengalaman penutupan asuransi sebelumnya;
  • Fakta teknis lainnya yang diketahui.

Contoh:

Seseorang harus menjelaskan konstruksi bangunan yang sebenarnya pada saat akan menutup asuransi. Sebab konstruksi bangunan dapat dikamuflase dengan wall paper atau cat.

Fakta yang harus diungkapkan penanggung (melalui agen)

  • Menjelaskan risiko yang dijamin dan pengecualiannya;
  • Memberitahukan besarnya premi sesuai dengan peraturan;
  • Memberikan penjelasan tentang prosedur klaim;
  • Informasi lain yang diperlukan.

Pelanggaran prinsip utmost good faith:

  • Pernyataan atau keterangan yang salah tetapi bukan karena kesengajaan;
  • Pernyataan atau keterangan yang salah yang dilakukan dengan sengaja untuk
    mendapatkan keuntungan;
  • Tidak mengungkapkan fakta atau tidak memberitahukan hal-hal yang diperlukan pihak lain, bukan karena kesengajaan, namun mungkin saja karena ketidaktahuan atau kelupaan;
  • Menyembunyikan keterangan atau fakta secara sengaja untuk mendapatkan
    keuntungan.

Contoh:

  • Mengajukan klaim asuransi yang bersifat fiktif;
  • Menaikkan jumlah permintaan ganti rugi dengan rekayasa yang sengaja dimanipulasi;
  • Mengasuransikan obyek asuransi yang rawan dengan keterangan yang berbeda dengan kenyataan yang ada.

Reaksi atas pelanggaran

  • Menganggap batal kontrak atau perjanjian asuransi yang ada
        a. Tidak ada kontrak dari awalnya;
        b. Menolak bertanggung jawab atas klaim.
  • Menuntut pihak yang melakukan kesengajaan untuk merugikan pihak lain.
  • Menganggap tidak ada pelanggaran, dan melanjutkan kontrak asuransi.

 

Apabila obyek yang diasuransikan terkena musibah sehingga menimbulkan kerugian maka penanggung akan memberi ganti rugi kepada tertanggung sesuai dengan prinsip indemnity (indemnitas). Namun demikian, tertanggung tidak berhak memperoleh ganti rugi lebih besar daripada kerugian yang diderita.

Metode pembayaran/pengganti kerugian bervariasi tergantung dari kerugian yang diderita oleh tertanggung. Jenisnya antara lain:

  • Tunai (cash), misalnya dalam asuransi kecelakaan diri, atau biaya perbaikan kendaraan yang rusak akibat kecelakaan;
  • Perbaikan (repair), misalnya bengkel mobil rekanan asuransi;
  • Reinstate, misalnya membangun kembali bangunan yang rusak akibat kerugian;
  • Mengganti (replace), misalnya untuk mesin-mesin, atau berlaku juga pada asuransi mobil.

Prinsip subrogration (perwalian) ini berkaitan dengan suatu keadaan dimana kerugian yang dialami tertanggung merupakan akibat dari kesalahan pihak ketiga (orang lain). Prinsip ini memberikan hak perwalian kepada penanggung oleh tertanggung jika melibatkan pihak ketiga. Dengan kata lain, apabila tertanggung mengalami kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga, maka XYZ, setelah memberikan ganti rugi kepada tertanggung, akan mengganti kedudukan tertanggung dalam mengajukan tuntutan kepada pihak ketiga tersebut.

Mekanisme Aplikasi subrogasi

  • Tertanggung harus memilih salah satu sumber pengantian kerugian, dari pihak ketiga atau dari asuransi.
  • Kalau tertanggung sudah menerima penggantian kerugian dari pihak ketiga, ia tidak akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi, kecuali jumlah penggantian dari pihak ketiga tsb tidak sepenuhnya.
  • Kalau tertanggung sudah mendapatkan penggantian  dari asuransi ia tidak boleh menuntut pihak ketiga. Karena hak menuntut tersebut sudah dilimpahkan ke perusahaan asuransi.

Contoh:

Kendaraan A ditabrak oleh kendaraan B. Kendaraan A diasuransikan ke XYZ. Setelah XYZ membayar klaim ke pihak A, maka XYZ bertindak atas pihak A dapat mengajukan klaim ke pihak B.

Walaupun sudah ditegaskan tidak diperbolehkan, tetapi mungkin saja seseorang mengasuransikan harta benda yang sama pada beberapa perusahaan asuransi. Bila terjadi kerugian atas obyek yang diasuransikan, maka secara otomatis berlaku prinsip contribution (kontribusi). Tertanggung tidak mungkin mendapatkan penggantian kerugian dari masing-masing perusahaan asuransi secara penuh.

Prinsip kontribusi berarti bahwa apabila perusahaan asuransi telah membayar ganti rugi yang menjadi hak tertanggung, maka perusahaan berhak menuntut perusahaan asuransi lain yang terlibat dalam obyek tersebut untuk membayar bagian kerugian sesuai dengan prinsip kontribusi.

Contoh:

Bapak A mengasuransikan satu unit rumah tinggal seharga 100 juta kepada tiga perusahaan asuransi:

Asuransi A       = Rp 100.000.000,-

Asuransi B        = Rp   50.000.000,-

Asuransi C        = Rp   50.000.000,-

Total                 = Rp  200.000.000,-

 

Bila bangunan tersebut mengalami kerugian total, misalnya habis terbakar, maka maksimum ganti rugi yang Bapak A peroleh adalah dari:

Asuransi A= Rp 100.000.000 / 200.000.000 X 100.000.000 = Rp 50.000.000

Asuransi B= Rp 50.000.000 / 200.000.000  X 100.000.000   = Rp 25.000.000

  1. Asuransi C= Rp 50.000.000 / 200.000.000 X 100.000.000    = Rp 25.000.000

                                                                                                  Total ganti rugi     = Rp 100.000.000

Dengan demikian jumlah ganti yang harus Bapak A terima dari ketiga perusahaan tersebut bukanlah Rp 200.000.000, melainkan hanya Rp 100.000.000 sesuai dengan harga rumah sebenarnya.

Prinsip ini tidak berlaku bagi asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan diri yang berkaitan dengan meninggal dunia atau cacat tetap.

Contoh:

Bapak. A mempunyai polis Asuransi Jiwa A sebesar Rp 100.000.000, Asuransi Jiwa B sebesar Rp 50.000.000, dan Asuransi Jiwa C sebesar Rp 100.000.000. Kalau Bapak. A meninggal akibat kecelakaan yang dijamin oleh ketiga polis tersebut, maka ahli warisnya akan menerima santunan uang tunai (bukan ganti rugi) sebesar Rp 250.000.000.

Dalam praktek asuransi, kadang-kadang sangat sulit menetapkan suatu peristiwa yang dianggap sebagai penyebab yang paling dominan atau paling efisien menimbulkan kerugian, karena sering terjadi peristiwanya tidak merupakan peristiwa tunggal (single perils), tetapi merupakan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan sehingga sering terjadi kontroversi dan perdebatan dalam menetapkan kejadian utama penyebab kerugian. Prinsip proximate cause (kausa proksimal) dapat menjadi solusi untuk masalah ini.

Contoh:

Kapal kandas terkena batu karang di laut dan mengalami kebocoran. Untuk sementara dilakukan tindakan darurat dengan menambal kebocoran tersebut supaya kapal bisa segera menuju ke pelabuhan terdekat. Namun di tengah jalan, tambalan terlepas dan kapal tenggelam. Faktor manakah yang menyebabkan kapal tenggelam? Peristiwa kandasnya kapal terkena batu karang atau karena tambalan kebocoran yang ada lepas?

Penyelesaian :

§ Penyebab dominan tidak harus selalu penyebab pertama, atau penyebab terakhir. Penyebab yang paling aktif dan efisien menimbulkan kerugianlah yang dijadikan proximate cause.

§ Sering juga terjadi dua peristiwa yang terjadi bersamaan, secara independent (tidak berkaitan) yang menimbulkan suatu kerugian/kerusakan.

Contoh:

Terjadinya angin topan bersaman dengan kebakaran, yang tidak berkaitan, namun ada dua jenis kerugian, akibat kebakaran dan akibat angin topan. Ada juga suatu peristiwa kebakaran yang terjadi saat ada huru hara, yang masing-masing tidak berkaitan

Penyelesaian :

  • Kalau dua kerugian tidak bisa dipisahkan, dan keduanya tidak dikecualikan dalam polis, dijamin.
  • Kalau salah satu dikecualikan dan kerugiannya tidak bisa dipisahkan, tidak dijamin. Kalau bisa dipisahkan, hanya yang tidak dikecualikan yang dijamin asuransinya.

Dalam keadaan yang khusus, sering diperlukan suatu bantuan penetapan oleh para ahli atau profesional terkait, misalnya professional claim surveyor kebakaran.

1 Komentar (+add yours?)

  1. subagiyo unikom
    Mei 24, 2009 @ 05:26:39

    met pagi pak…udah bangun belum di minggu pagi ini.
    ternyata banyak sekali ya pak..sesuatu hal yang menyebabkan datangnya sebuah resiko..!!!
    saya punya unek2 nich pak kalau misalkan seseorang telah melakukan suatu perbuatan yang merugikan pihak lain dan disaat dimintai pertanggungjawabannya malahh dia menyalahkan orang lain (tidak mau bertanggung jawab) apakah itu juga salah satu contoh dari resiko transfer….?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: