Selamat Menyontreng

Selamat Menyontreng

Bramantyo Djohanputro

Berbagai survey dan analisis menunjukkan, sebagian besar masyarakat
sudah memiliki pilihan jauh sebelum masa kampanye. Sebagian saja yang
terpengaruh oleh kampanye berbagai media, dan yang dapat mengalihkan
pemilih ke partai lain. Salah satu isu penting yang mencuat dari
partai-partai tersebut adalah ekonomi, baik domestik maupun
internasional.

Dalam hal isu ekonomi domestik, yang dilontarkan tidak jauh dari masalah
pengangguran, peningkatan kesejahteraan, pemerataan kemakmuran, dan
masalah korupsi. Isu-isu tersebut selalu terdengar sejak Pak Harto masih
berkuasa, dan tetap menjadi isu hangat yang belum terpecahkan sampai
saat ini. Ditambah lagi berbagai bencana, baik bencana alam murni,
bencana karena ulah manusia, maupun bencana karena keteledoran manusia
terhadap alam dan lingkungannya. Situ Gintung merupakan salah satunya,
dan menumpuk potensi dari situ-situ yang lain bila hujan masih datang
dalam beberapa hari atau bulan ke depan.

Masalah pengangguran, dan peningkatan serta pemerataan kemakmuran mau
tidak mau mengedepankan isu rakyat kebanyakan, termasuk masyarakat desa
dan petani yang jumlahnya lebih dari 60% masyarakat Indonesia. Mereka
menjadi ajang perebutan partai-partai, terutama yang secara terus terang
mengangkat isu-isu pembangunan pedesaan.

Masalah ekonomi internasional terkait dengan sistem ekonomi dunia yang
sedang berubah, sementara posisi Indonesia, menurut hemat saya, tidak
jelas benar di mana maunya. Dalam tatanan pasar bebas, Indonesia
cenderung mengikuti arus tersebut. Namun kondisi saat ini cenderung
menuntut Pemerintah dan masyarakat untuk menerapkan ekonomi protektif,
terutama terhadap serangan produk luar negeri. Upaya ke arah tersebut
telah dilakukan dalam beberapa aspek sekalipun masih minim.

Tampaknya saat ini hanya negara-negara besar yang tetap getol mendorong
dunia untuk menerapkan sistem pasar bebas, seperti yang ditunjukkan
dalam pertemuan G-20 di London baru-baru ini. Namun apakah hal tersebut
serius dilakukan oleh negara-negara yang iktu berunding? Tampaknya
tidak. Isu dumping atau banting harga tidak dapat dihindari. Produsen
berbagai produk ekspor, seperti China, yang saat ini menjual produknya
sangat murah dicurigai sengaja melakukannya demi memastikan tetap
beroperasinya perusahaan-perusaha an di sana. Indonesia sendiri mendorog
penggunaan produk-produk domestik, sekalipun masih banyak hal yang perlu
dibenahi dalam menjalankan kebijakan tersebut, baik oleh pemerintah
maupun pihak swasta.

Lalu apa yang diharapkan dari ramai-ramai datang ke TPS dan mencontreng
gamabr partai atau nama calon legislatif? Bagi masyarakat umum, ke
depannya masih belum jelas apakah mereka akan benar-benar memperjuangkan
kepentingan masyarakat, sesuai dengan isu-isu di atas. Mengaca apa yang
terjadi di periode yang lalu, kebijakan yang dibuat oleh dewan banyak
bernuansa kepentingan sepihak. Dan kemungkinan besar lainnya adalah,
Pemilu 9 April 2009 hanya dijadikan jalan antara untuk menuju kursi RI 1
dan RI 2.

Dalam konteks naik turunnya ekonomi dan bisnis, sebagian besar
masyarakat bersifat menunggu sampai akhir kwartal kedua 2009. Bila
semuanya lancar, masyarakat cenderung optimis akan terjadinya
pertumbuhan ekonomi mulai kwartal kedua 2009. Ada faktor yang dapat
mengurangi rasa optimisme tersebut. Pertama, persiapan Pemilu mengalami
kendala serius, khususnya terkait masalah DPT yang amburadul. Kemarin
pagi saya bertemu seorang rekan dari Bekasi, yang mengatakan namanya
tercatat dua kali di dalam DPT.

Kedua, masalah keterlambatan pengucuran stimulus ekonomi yang sudah
dijanjikan. Namanya saja stimulus, tentunya peningkatan kesejahteraan,
yang diukur dengan pertumbuhan Produk Nasional Bruto (PNB) atau Produk
Domestik Bruto (PDB) riil, buka semata-mata dari dana stimulus tersebut
saja. Yang penting adalah sejauh mana dana tersebut diterima oleh
masyarakat, yang kemudian dibelanjakan untuk produk domestik ke produk
lainnya, penerima dana membelanjakan lagi untuk produk domestik lainnya,
dan demikian seterusnya sehingga terjadi efek multiplikasi (multiplier
effect). Efek tersebut membutuhkan waktu sehingga dampak pada PNB maupun
PDB baru terjadi beberapa saat kemudian, dengan catatan terjadi
konsistensi belanja terhadap produk domestik.

Pada waktu datang ke TPS, memang belum tentu faktor-faktor di atas yang
ada di benak pemilih. Mudah-mudahan keputusan dalam beberapa detik saat
di dalam bilik TPS benar-benar memberi manfaat beberapa tahun ke depan
untuk mendapatkan figur-figur yang cocok dengan isu-isu di atas. Dengan
demikian, KPU wajib berterimakasih kepada mereka yang datang ke TPS,
sekalipun tiket kereta ke luar Jakarta tanggal 7 dan 8 April sudah
penuh. Mungkin mereka akan datang ke TPS di daerah, atau menikmati hari
Pemilu sebagai hari liburan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: