Resiko

ESENSI UTAMA DARI MANAJEMEN RESIKO ADALAH MEMINIMALKAN PENGARUH NEGATIF DARI BERBAGAI RESIKO YANG DIHADAPI DALAM KEGIATAN BISNIS AGAR PELUANG DAN TUJUAN BISNIS DAPAT TERCAPAI SECARA OPTIMAL.

Walaupun pada kenyataannya secara alamiah manajemen resiko telah dilakukan oleh setiap entitas dan pelaku bisnis, namun dalam perkembangannya akhir-akhir ini praktisi bisnis mulai dituntut untuk melakukannya secara profesional, terencana, dan terukur.
Enterprise Risk Management ini akan membahas cara-cara mendeteksi resiko, konsep pengelolaan resiko, bagaimana proses manajemen resiko dan aplikasinya.

• Auditor Internal yang ingin memahami dan memperluas wawasannya dalam pengelolaan risiko bisnis
• Auditor Internal yang ingin menyegarkan pengetahuannya dalam penerapan manajemen risiko yang efektif
• Para Manajer dan eksekutif yang ingin memperluas pengetahuannya dalam mengimplementasikan ERM secara efektif
• Enterprise risk management implementation team leaders and members.

Tujuan
A. Memberikan pemahaman akan pentingnya Penerapan Manajemen Resiko yang Efektif yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan
B. Memahami COSO ERM Framework
C. Membekali Peserta dengan pemahaman yang mendasar mengenai proses manajemen resiko dan teknik aplikasinya dalam operasional perusahaan sehari-hari
D. Dengan menerapkan manajemen resiko secara tepat diharapkan akan membantu manajemen perusahaan dalam pengembangan corporate governance dan melindungi kepentingan stakeholdernya
E. Benchmark, or reinvent, your risk management tools and practices

POKOK-POKOK BAHASAN :

I.   GAMBARAN UMUM MANAJEMEN RESIKO
a).  Esensi Manajemen Resiko
b).  Perkembangan Status dan Praktek Manajemen Resiko
c).  Faktor Kunci Keberhasilan Manajemen Resiko
d).  Kebutuhan terhadap Manajemen Resiko
e).  Tujuan dan Manfaat Manajemen Resiko
f).  Hasil yang Diharapkan dari Penerapan Manajemen Resiko
II.  KONSEP MANAJEMEN RESIKO
III. ENTERPRISE RISK MANAGEMENT FRAMEWORK
IV.  PROSES MANAJEMEN RESIKO
V.   PENERAPAN PROSES MANAJEMEN RESIKO
VI.  STUDI KASUS

10 Komentar (+add yours?)

  1. Ludovicus P. (112050049)
    Apr 04, 2009 @ 18:44:23

    Sebuah proses manajemen yang penting untuk menjadi tambahan analisa dan atau pertimbangan2 dalam mengambil suatu keputusan.

    Proses yang ditawarkan oleh manajemen resiko adalah menganalisis setiap keputusan atau tindakan yang akan diambil perusahaan, melihat probabilitas terjadinya kerugian serta dampak yang ditimbulkan.

    Menjadi penting karena pihak manajemen dapat mempertimbangkan kerugian2 yang dapat dialami perusahaan. Dari sini dapat dilakukan langkah pencegahan maupun penanganan.

    Balas

  2. Risma Fransiska
    Apr 09, 2009 @ 21:21:50

    ass…. pak ni sama risma 06ka01
    mo tanya perbaikan nilai gmn? n apa soalnya?
    makasih y pa

    Balas

  3. yanuar muhtaat p
    Apr 14, 2009 @ 14:14:32

    Kesimpulan yang dapat diambil dari artikel diatas adalah bahwa resiko itu selalu ada dalam tindakan kita sehari-hari, bahkan tidak melakukan apapun (do nothing) juga mengandung resiko. Resiko akan membawa dampak negatif terhadap hasil dari usaha kita, untuk itu perlu adanya managemen resiko sehingga dampak dari resiko tersebut dapat kita minimalisir, dengan begitu result yang kita dapat juga optimal.

    Balas

  4. jepri p l purba
    Apr 16, 2009 @ 11:51:08

    terkadang orang paham dan mengenali resiko tapi..tetapsaja dia tidak sadar bagaimana untuk mengelola resiko tersebut untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan……
    pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari kadang kurang disadari oleh kita.. padahal resiko tersebut sudah di depan mata….
    bagaimana cara mengelola resiko tersebut dapat kita mulai dengan memahami terlebih dahulu apa itu resiko itu, kemudian mulailah untuk bergabung……………..
    “JANGAN ANGGAP REMEH TERHADAP RESIKO”

    Balas

  5. kikadz
    Apr 16, 2009 @ 21:50:19

    Manajemen resiko adalah proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu. Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian serta tuntutan hokum). (Wikipedia)
    Manajemen Resiko Perusahaan Terintegrasi atau ERM (Enterprise Risk Management) merupakan proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasikan, mengukur, memetakan, mengembangkan alternative penanganan resiko dalam memonitor dan mengendalikan implementasi penanganan resiko.
    Siklus manajemen resiko terdiri dari lima tahap, yaitu :

    I. Tahap Identifikasi Resiko
    Identifikasi Resiko adalah rangkaian proses pengenalan yang seksama atas resiko dan komponen resiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan resiko yang tepat. Pada tahap ini, analis berusaha mengidentifikasi apa saja resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh sekumpulan informasi tentang kejadian resiko, informasi mengenai penyebab resiko, bahkan informasi mengenai dampak apa saja yang bisa ditimbulkan oleh resiko tersebut
    Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi resiko dimulai dengan pemahaman tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai resiko. Sebagaimana telah didefiniskan di atas, maka resiko adalah : tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu/tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada
    suatu kurun/periode tertentu (time horizon).
    Bertitik tolak dari definisi tersebut maka terdapat dua tolak ukur penting di dalam pengertian
    resiko, yaitu :
    a. Tujuan (yang ingin dicapai)/Objectives
    Untuk dapat menetapkan batas-batas resiko yang dapat diterima, maka suatu perusahaan harus
    terlebih dahulu menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Kerap kali, ketidakjelasan mengenai tujuan-tujuan yang ingin dicapai mengakibatkan munculnya resiko-resiko yang tidak diharapkan.
    b. Periode Waktu (Time Horizon)
    Periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat resiko yang dihadapi, sangatlah tergantung pada jenis bisnis yang dikerjakan oleh suatu perusahaan. Semakin dinamis pergerakan faktor-faktor pasar untuk suatu jenis bisnis tertentu, semakin singkat periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat resiko yang dihadapi. Contoh, seorang manajer pasar uang di suatu bank mestinya akan melakukan pemantauan atas tingkat resiko yang dihadapi secara harian. Di lain pihak seorang manajer portofolio kredit/capital market, mungkin akan menerapkan periode waktu 1 bulan untuk melakukan pemantauan atas tingkat resiko yang dihadapi.
    Pemahaman yang benar atas kedua tolak ukur tersebut akan sangat menentukan validitas dan efektifitas dari konsep Risk Management yang akan dibangun.
    Tahapan selanjutnya dari proses identifikasi resiko adalah menentukan metode identifikasi resiko. Ada empat jenis metode yang dapat diterapkan dalam mengidentifikasikan resiko, yaitu
     Analisis data historis
    Pada metode ini, digunakan berbagai informasi dan data yang tersedia dalam perusahaan mengenai segala sesuatu yang pernah terjadi.
    Contoh dari data kepegawaian, dapat diketahui bahwa perusahaan menghadapi resiko kehilangan karyawan yang penting

     Pengamatan dan survei
    Pengidentifikasiaan resiko pada metode pengamatan dan survey, dilakukan dengan cara investigasi atau pencarian data langsung di tempat kejadian
    Contoh dengan mengamati proses produksi, dapat diketahui bahwa perusahaan menghadapi resiko lampu mati.

     Pengacuan (benchmarking)
    Pada metode pengacuan, pengidentifikasian resiko dilakukan dengan mencari informasi tentang resiko di tempat atau perusahaan lain.
    Contohnya, dari berita di media massa, dapat diketahui bahwa eskalator beresiko menyebabkan anak-anak terjepit.

     Pendapat ahli
    Pengidentifikasiaan resiko pada metode ini, dilakukan dengan mencari informasi dari ahli di bidang resiko tertentu.
    Contohnya dari bertanya pada dokter, dapat diketahui bahwa orang dengan tingkat kolesterol tinggi beresiko kena penyakit jantung.

    Kemudian tahap selanjutnya adalah mengenali jenis-jenis resiko yang mungkin (dan umumnya) dihadapi oleh setiap pelaku bisnis. Berikut ini adalah jenis-jenis resiko yang dihadapi oleh kalangan perbankan adalah apa yang tercantum di dalam Core Principle for Effective Banking Supervision (Basel Core principles) September 1997, yang tergabung di dalam Compendium of documents produced by the Basel Committee on Banking Supervision, February 2000 :
    1.Resiko Kredit (Credit Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan counterparty (debitur) dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai yang disyaratkan oleh kontrak/perjanjian.
    Resiko ini tidak hanya muncul dari kredit/pinjaman (loan) melainkan juga meliputi komponen-komponen lain, baik on maupun off balance sheet seperti Garansi, Akseptasi, Securities Investment, dll.
    2. Resiko Negara dan Pengalihan (Country and Transfer Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kondisi lingkungan ekonomi, sosial, politik dari negara asal counterparty (debitur). Resiko ini muncul dalam transaksi pinjaman lintas negara.
    3. Resiko Pasar (Market Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan harga di pasar. Resiko ini harus dilihat dalam konteks prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku saat ini. Resiko ini tampak jelas pada aktivitas trading seperti debt/equity instruments, foreign exchange, atau komoditas.
    4. Resiko Tingkat Bunga (Interest Rate Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan tingkat bunga di pasar.
    5. Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakmampuan bank untuk mengakomodasi berkurangnya pasiva/liabilities atau untuk membiayai/mendanai peningkatan di sisi aktiva/assets.
    6. Resiko Operasional (Operational Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pelanggaran atas ketentuan-ketentuan internal maupun atas kebijakan-kebijakan bank.
    7. Resiko Hukum (Legal Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakcukupan (inadequacy) atau kesalahan dalam pemberian pendapat hukum maupun dokumentasi hukum.
    8. Resiko Reputasi (Reputational Risk)
    Adalah resiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan di dalam operasional bank khususnya kegagalan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan yang dikenakan atas bank
    Kemudian setelah memahami pengertian resiko itu sendiri, dilakukan analisis terhadap pihak-pihak yang berkepentingan pada perusahaan yaitu stakeholder dan shareholder.
    Shareholder adalah para pemegang saham (penanam modal) di sebuah organisasi (perusahaan). Seseorang akan dibilang sebagai seorang shareholder apabila dia telah menanamkan modalnya di perusahaan yang bersangkutan, biasanya melalui pembelian saham. Tapi bisa juga dalam bentuk penanaman modal lainnya.
    Stakeholder adalah mereka yang mempunyai kepentingan terhadap sebuah organisasi atau perusahaan, dan termasuk di dalamnya para shareholder. Stakeholder dapat dibagi menjadi dua: stakeholder internal dan stakeholder eksternal.
    Stakeholder internal adalah stakeholders dari dalam perusahaan, sedangkan stakeholder eksternal adalah stakeholders yang berada di luar perusahaan.
    Contoh, stakeholder Telkom Indonesia diantaranya:
     Stakeholder internal:
     Karyawan dan keluarganya
     Serikat Karyawan Telkom
     Stakeholder eksternal:
     Rakyat Indonesia
     Pemerintah Indonesia
     Pemegang saham (investor) / shareholder
     Pabrik telepon
     Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
     Pemilik tanah yang lahannya dipakai untuk menara pemancar Telkom
     Supplier Alat Tulis Kantor nya Telkom
    Tahap berikutnya, melakukan analisis dengan menggunakan 7S dari McKenzie. Ketujuh S tersebut adalah :

    1. Structure
    It is defined as the skeleton of the organisation or the organisational chart. The basic organization of the company, its departments, reporting lines, areas of expertise, and responsibility (and how they inter-relate). Business needs to be organised in a specific form of shape that is generally referred to as organizational structure. Traditionally, the businesses have been structured in a hierarchical way with several divisions and departments, each responsible for a specific task such as human resources management, production or marketing. Many layers of management controlled the operations, with each answerable to the upper layer of management.
    2. System
    The routine processes and procedures followed within the organisation. Formal and informal procedures that govern everyday activity, covering everything from management information systems, through to the systems at the point of contact with the customer (retail systems, call centre systems, online systems, etc). For example, a company may follow a particular process for recruitment. These processes are normally strictly followed and are designed to achieve maximum effectiveness.
    3. Strategy
    Defined as the plan or course of action in allocating resources to achieve identified goals over time. The direction and scope of the company over the long term. Strategy is the plan of action an organisation prepares in response to, or anticipation of, changes in its external environment.
    4. Staff
    Staff is, of course, people; it includes
    • How they are sourced
    • How they are developed
    • How they are deployed
    • How they are motivated
    Staff is tough to change.
    5. Skill
    Skills are the talents (as distinct from the people, or systems) an organization brings to bear on its business; they include
    • Key functions (e.g., purchasing, R&D, sales)
    • Predispositions (e.g., ability to manage large projects)
    Skills should be seen both as potential weaknesses and as strengths
    Skills are also tough to change
    6. Style
    Style is more tangible than it seems, and includes
    • Level and focus of management attention
    • Personality
    • Ways of interacting and approaches to problems
    7. Shared Value
    Shared values are the very few, consistent themes and goals which drive an organization.
    Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.
    II. Tahap Pengukuran Resiko
    A. Definisi
    Pengukuran Resiko adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu resiko, baik secara individual maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha. Pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan resiko yang terarah dan berhasil guna.
    Pada umumnya pengukuran resiko mengacu pada dua factor, yaitu kualitas dan kuantitas. Faktor kualitas menyangkut dengan berapa banyak nilai atau exposure yang rentan terhadap resiko, sedangkan faktor kuantitas resiko berkaitan dengan kemungkinan suatu resiko muncul.
    Exposure adalah obyek yang rentan terhadap resiko dan berdampak pada kinerja perusahaan apabila resiko yang diprediksikan benar-benar terjadi. Eksposur yang paling umum berkaitan dengan ukuran keuangan, misalnya harga saham, laba, pertumbuhan penjualan, dan sebagainya.
    B. Dimensi
    Signifikansi suatu resiko maupun portofolio resiko dapat diketahui/disimpulkan dengan
    melakukan pengukuran terhadap 2 dimensi resiko yaitu :
    • Kuantitas (quantity) resiko, yaitu jumlah kerugian yang mungkin muncul dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kuantitas resiko dinyatakan dalam satuan mata uang. Dimensi kuantitas meliputi notional, trend, volatilitas, penyimpangan bawah.
    • Kualitas (quality) resiko, yaitu probabilitas (likelihood) dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kualitas resiko dapat dinyatakan dalam bentuk : confidence level, matrix resiko (tinggi, sedang, rendah), dan lain-lain yang dapat menggambarkan kualitas resiko.
    Dua dimensi ini harus muncul sebagai hasil dari proses pengukuran resiko.

    C. Metode
    Berikut ini adalah metode pengukuran resiko berdasarkan dimensi :
    1. Metode pengukuran kuantitas resiko
    a) Notional
    Notional: resiko diukur berdasarkan batas atas besarnya nilai yang rentan terhadap resiko (eksposur). Contoh pengukuran resiko kredit dengan metode notional. Jika perusahaan meminjamkan uang kepada pihak lain senilai Rp 2 milyar, maka besarnya resiko kredit berdasarkan pendekatan notional adalah Rp 2 milyar.
    b) Sensitivitas
    Sensitivitas: diukur berdasarkan sensitivitas eksposur terhadap pergerakan satu unit variabel pasar. Contoh paling populer adalah resiko aset keuangan atau sekuritas, yang diukur berdasarkan sensitivitas tingkat pengembalian (return) aset yang bersangkutan terhadap perubahan tingkat pengembalian pasar. Ukuran ini dikenal sebagai Beta Pasar. Contoh lainnya adalah degree of operating leverage (DOL), yang mengukur sensitivitas laba operasi terhadap perubahan penjualan. DOL digunakan sebagai ukuran resiko bisnis.
    c) Volatilitas
    Volatilitas: diukur berdasarkan rata-rata variasi nilai eksposur, baik variasi negatif maupun positif. Semakin besar standar deviasi suatu eksposur, semakin berfluktuasi nilai eksposur tersebut, yang berarti semakin beresiko eksposur atau aset tersebut.
    d) Penyimpangan bawah
    Penyimpangan bawah: diukur berdasarkan penyimpangan negatif dari eksposur. Dikenal juga dengan pendekatan VaR (value at risk), resiko diukur berdasarkan kerugian maksimum yang bisa terjadi pada suatu aset atau investasi selama periode tertentu, dengan tingkat keyakinan (level of confidence) tertentu. Value At Risk pada saat ini dapat dianggap sebagai metode standar di dalam mengukur Resiko Pasar (Market Risk), dan mulai banyak digunakan untuk mengukur Resiko (Portofolio) Kredit. Per definisi Value At Risk adalah : kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu/periode tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu (“predicted worst-case loss with a specific confidence level over a period of time”). Konsep VAR berdiri di atas dasar observasi statistik atas data-data historis dan relatif dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang bersifat obyektif. Upaya untuk mengukur resiko telah dilakukan orang dengan berbagai cara. Berbagai indikator yang sering digunakan oleh bank dalam mengukur dan mengelola Resiko Kredit atas portofolio kreditnya misalnya : penetapan rating, pembatasan tenor, pembatasan sector industri, penetapan watch list, dsb. Resiko Pasar misalnya : volatilitas, sensitivitas, dsb. Resiko Tingkat Bunga misalnya : Liquidity Gap, Interest Rate Gap, dsb. VAR, dapat dikatakan, merangkum seluruh substansi yang ingin ditangkap dari alat-alat atau metode-metode tradisional tersebut. VAR juga mengakomodasi kebutuhan untuk mengetahui potensi kerugian atas exposure tertentu. VAR juga dapat diterapkan pada berbagai level transaksi, mulai dari individual exposure sampai pada portfolio exposures. Dua hal yang tidak dapat ditawarkan oleh alat metode tradisional seperti disebutkan di atas. Secara umum ada empat pertanyaan dasar yang akan dijawab dengan menggunakan konsep VAR yaitu :
     Berapa banyak bank akan mengalami kerugian?
     Apakah kerugian tersebut akan terkonsentrasi pada satu aspek tertentu (obligor, area, jenis resiko)?
     Exposure mana yang akan meminimalkan resiko dari exposure yang lain?
     Berapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan mengambil resiko tersebut?
    Untuk mengukur resiko dengan pendekatan VaR, diperlukan data standar deviasi dan skor Z dari tabel distribusi normal. Contoh: diketahui standar deviasi daru suatu aset bernilai Rp 1 juta adalah 2,4%. Pada tingkat keyakinan 95%, skor Z-nya adalah 1,645. Maka besarnya resiko (dalam nilai Z) adalah 0,024 x 1,645 = 0,040. Jika nilai Z tersebut dikembalikan ke nilai awalnya menjadi 0,040 x Rp 1 juta = Rp 40 ribu.
    e) Stress Testing
    Salah satu keterbatasan konsep VAR adalah bahwa VAR hanya efektif diterapkan dalam
    kondisi pasar yang normal. Konsep VAR tidak dirancang untuk memprediksikan terjadinya
    suatu kejadian yang akan menyebabkan runtuhnya pasar (unexpected event) seperti perang,
    bencana alam, perubahan drastis di bidang politik, dll.
    Konsep Stress Testing memberikan jawaban untuk masalah tersebut. Konsep Stress Testing
    dirancang sebagai suatu pendekatan subyektif terhadap resiko yang bagian terbesarnya
    tergantung pada human judgement. Konsep ini adalah sebuah rangkaian proses eksplorasi,
    mempertanyakan, dan berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan (khususnya terkait
    dengan resiko) pada saat terjadinya sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” (very unlikely)
    terjadi.
    Di dalam konsep Stress Testing dilakukan hal-hal sebagai berikut :
    • Menyusun beberapa skenario (terjadinya unexpected event)
    • Melakukan revaluasi (resiko) atas portofolio
    • Menyusun kesimpulan atas skenario-skenario tersebut
    Stress Testing harus dilaksanakan secara periodik dengan melibatkan Senior Management.
    f) Back Testing
    Suatu model hanya berguna jika model tersebut dapat menerangkan realitas yang terjadi. Demikian pula dengan model pengukuran resiko. Untuk menjaga reliability dari model, maka secara periodik suatu model pengukuran harus diuji dengan menggunakan suatu konsep yang dikenal dengan Back Testing.

    2. Metode pengukuran kualitas resiko
    a) Metode Probabilitas
    1. Metode Probabilitas
    Probabilitas adalah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Probabilitas adalah nilai kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Nilainya di antara 0 dan 1. Kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 1 adalah kejadian yang pasti terjadi, dan tentu tidak akan mengejutkan sama sekali.
    Misalnya matahari yang masih terbit di timur sampai sekarang. Sedangkan suatu kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 0 adalah kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi. Misalnya seekor kambing melahirkan seekor sapi.
    Contoh Probabilitas Kejadian
    Skala Probabilitas:
    SKALA KEJADIAN
    1 Sangat Pasti (hampir dipastikan 100% terjadi tahun depan, atau terjadi setiap tahun)
    2 Hampir Pasti (75 –100% terjadi tahun depan, atau sekali dalam 5 tahun mendatang)
    3 Mungkin (50 -75 % terjadi tahun depan, atau sekali dalam 10 tahun)
    4 Kecil (20-50 % terjadi tahun depan atau sekali dalam 25 tahun)
    5 Tidak Pasti (1 –20 % terjadi tahun depan atau sekali dalam lebih dari 50 tahun)

    Dampak Kejadian
    Dampak Kerugian yang ditimbulkan:
    SKALA DAMPAK
    1 Tidak Parah
    2 Ringan
    3 Cukup Parah
    4 Parah
    5 Sangat Parah

    MATRIKS RESIKO

    Dari gambar matriks resiko, bisa dibuat prioritas dari kemungkinan resiko yang telah dibuat dimana:
    1. Prioritas utama, yaitu resiko estimasi
    2. Prioritas menengah, yaitu resiko yang berhubungan dengan masyarakat (eksternal) dan resiko peralatan pengembangan
    3. Prioritas kecil , yaitu resiko pengaruh organisasi (internal), resiko proses, resiko teknologi, resiko yang berhubungan dengan jumlah staf dan pengalaman dan resiko komponen dan pengendali.

    III. Tahap Pemetaan Resiko
    Tahap pemetaan resiko bertujuan untuk mengetahui skala prioritas yang harus ditangani terlebih dahulu, karena tidak semua resiko berdampak pada perusahaan.

    IV. Tahap Model Pengelolaan Resiko
    Jika resiko-resiko yang dihadapi oleh perusahaan telah diidentifikasi, diukur, dan dipetakan maka pertanyaan selanjutnya adalah : “Profil/Struktur Resiko yang bagaimana yang terbaik bagi perusahaan?”. Pertanyaan tersebut mengarah kepada upaya untuk :
    • Meningkatkan kualitas dan prediktabilitas dari pendapatan perusahaan (earning) untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham (shareholder value)
    • Mengurangi kemungkinan munculnya tekanan pada kemampuan keuangan (financial distress)
    • Mempertahankan marjin operasi (operating margin)
    Konsep Pengelolaan Resiko berbicara seputar alternatif cara untuk mencapai tujuan-tujuan di atas. Pada dasarnya mekanisme Pengelolaan Resiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :
    1. Membatasi Resiko (Mitigating Risk)
    Membatasi Resiko dilakukan dengan menetapkan limit resiko, baik untuk individual exposure maupun portfolio exposure, yang dapat diterima oleh perusahaan. Penetapan Limit Resiko yang dapat diterima oleh perusahaan tidak semata-mata dilakukan untuk membatasi resiko yang diserap oleh perusahaan, melainkan juga harus diarahkan kepada upaya untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan tersebut terkait dengan konsekuensi (Modal/Capital) yang muncul dari angka-angka resiko yang dihasilkan dari proses pengukuran resiko. Artinya penetapan batas resiko dengan berbagai konsekuensi (finansial) yang muncul kemudian harus menghasilkan struktur neraca maupun rugi laba yang optimal bagi para pemegang saham.
    2. Mengelola Resiko (Managing Risk)
    Sebagaimana kita ketahui, nilai exposure yang dimiliki oleh perusahaan dapat bergerak setiap saat sebagai akibat pergerakan di berbagai faktor yang menentukan di pasar. Dalam kondisi demikian, maka angka yang dihasilkan dari proses pengukuran resiko di awal (munculnya exposure) akan berkurang validitasnya. Artinya bisa jadi profile resiko akan berubah sehingga tidak lagi dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham. Untuk itu maka dibutuhkan suatu proses untuk mengembalikan profil resiko kembali kepada profil yang memberikan hasil optimal bagi pemegang saham. Proses dimaksud dilakukan melalui berbagai jenis transaksi yang pada dasarnya merupakan upaya untuk :
    a. Menyediakan cushion/buffer untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin muncul dalam hal resiko yang diambil terealisir.
    b. Mengurangi/menghindarkan perusahaan dari kerugian total (total loss) yang mucul dalam hal resiko terealisir
    c. Mengalihkan resiko kepada pihak lain
    3. Memantau Resiko (Monitoring Risk)
    Pemantauan resiko pada dasarnya adalah mekanisme yang ditujukan untuk dapat memperoleh informasi terkini (updated) dari profile resiko perusahaan. Sekali lagi, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses membangun kesadaran tentang resiko di seluruh komponen organisasi perusahaan, suatu proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat terhadap resiko.
    V. Tahap Monitor dan Pengendalian
    Tahap yang terakhir dalam siklus manajemen resiko adalah monitor dan pengendalian resiko

    Balas

    • anne
      Nov 29, 2011 @ 23:30:30

      mau tanya ke kikadz, yg nge-post

      B. Dimensi
      Signifikansi suatu resiko maupun portofolio resiko dapat diketahui/disimpulkan dengan
      melakukan pengukuran terhadap 2 dimensi resiko yaitu :
      • Kuantitas (quantity) resiko, yaitu jumlah kerugian yang mungkin muncul dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kuantitas resiko dinyatakan dalam satuan mata uang. Dimensi kuantitas meliputi notional, trend, volatilitas, penyimpangan bawah.
      • Kualitas (quality) resiko, yaitu probabilitas (likelihood) dari terjadinya/terealisirnya resiko. Dimensi kualitas resiko dapat dinyatakan dalam bentuk : confidence level, matrix resiko (tinggi, sedang, rendah), dan lain-lain yang dapat menggambarkan kualitas resiko.
      Dua dimensi ini harus muncul sebagai hasil dari proses pengukuran resiko.

      ini buku sumber yg di pake apa ya?
      thx

      Balas

  6. Desta Yudistira (112051029)
    Apr 16, 2009 @ 22:02:12

    Resiko memang tidak bisa dihindari, maka kita harus bijak dalam berbuat.
    Orang yang bijak adalah orang yang mengenal dirinya sendiri dan tahu akan resiko apa saja yang akan diterima dari setiap perbuatannya.
    Maka manajemen resiko sangatlah penting, tidak hanya untuk manajemen bisnis tetapi juga untuk menata kehidupan dunia dan akhirat.

    Balas

  7. Deacy Puspa
    Mei 17, 2009 @ 03:51:38

    Pak, baru-baru ini saya membaca kembali pokok pembahasan mengenai konsep dan proses Manajemen Resiko pada buku ‘Enterprise Risk Management’ karangan James Lam.

    Saya bingung dalam membedakan 2 hal berikut ini:
    1. Eksposur (Berapa besar kerugian yang dapat kita terima?); dengan
    2. Tingkat Kerugian/Severity (Seberapa buruk bila hal itu terjadi)

    Dimana letak perbedaan kedua hal tersebut?
    Dan apa yang menjadi parameter dalam proses perhitungannya, Pak?

    Balas

    • eka
      Mei 18, 2009 @ 09:34:32

      Perbedaanya adalah: jika Eksposur itu dilihat dari kemungkinan (probailitas) kejadian/resiko itu terjadi sedangkan tingkat kreugian adalah dilihat dari impact yang muncul jika preistiwa atau resiko itu terjadi.
      contoh: suatu pom bensin, berapa besar kemungknan terjadinya kebakaran? (itu eksposure) tapi jika terjadi kebakaran berapa kerugian yg diderita?

      Parameternya adalah: eksposure parameternya probabilitas dan saverity diukur dengan nilai mata uang (Jika di Indonesia = Rupiah)

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: